• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 17 April 2014
Tribunnews.com

Jadi Anggota DPR, Venna Melinda Teringat Jasa Baik Sys NS dan Anas

Senin, 18 Maret 2013 00:36 WIB
Jadi Anggota DPR, Venna Melinda Teringat Jasa Baik Sys NS dan Anas
Kapanlagi
Venna Melinda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Seniman atau artis menjadi 'barang mahal' saat ini. Partai politik berlomba-lomba memburu mereka, direkrut untuk dijadikan kader bahkan calon legislatif sebagai magnet pemilih pada Pemilu 2014. Walaupun demikian, tidak semua artis mendapatkan perlakuan baik, atau dianakemaskan.

Model dan bekas None Jakarta, Venna Melinda misalnya, ia bukan tipe orang "panas hari", lupa kacang akan kulitnya. Dia orang yang tahu berbalas budi, dan tidak mudah melupakan orang lain. Dalam urusan proses hijrah dari artis ke dunia politik, dia mengenang jasa mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum.

Venna menceritakan perjalanan singkat tentang karier politiknya sehingga bisa menjadi anggota DPR RI. Ia mengatakan, mulanya dirinya adalah seorang pekerja seni murni yang tidak pernah bercita-cita menjadi politisi. Sebab, sebelumnya Venna adalah aktris film, penari salsa dan instruktur senam. Namun, seiring berjalannya waktu, suratan takdir hidupnya berubah.

None Jakarta 1993 dan Putri Indonesia 1994 ini menceritakan, mulanya salah seorang pendiri Partai Demokrat(PD), Sys NS, menawarinya untuk bergabung ke PD pada 2004. Saat itu, Venna menolak karena tengah sibuk dengan penggarapan album tarian salsa perdananya.

"The Other Side of Me". "Jadi, saya tidak siap mental dan tidak fokus," ujarnya.

Tidak mudah menjinakkan hati Venna. Barulah lima tahun kemudian, pada 2009, Ivan Fadilla, suaminya, seorang kader PD mendorong Venna bergabung dan berani untuk maju menjadi calon anggota legislatif atau caleg PD.
Venna mengaku, dorongan terjun ke partai dari sang suami itu dilatarbelakangi rasa cemburu.

"Mas Ivan yang nafsu banget. Dia bilang, 'Udah kamu masuk aja'. Kan dia melihat saya sejak 2004 sampai 2009 Salsa terus, sama penari-penari bule, orang Latin, mungkin lama kelamaan dia cemburu. Jadi, akhirnya Mas Ivan, 'Sudah deh 2009 ini, dengan kapasitas kamu yang suka kegiatan sosial, suka turun ke kolong jembatan sejak dulu, sudah lah, kalau kamu di DPR kamu bisa lebih banyak membantu, karena ada fungsi legislasi, budgeting, dan pengawasan," ungkap Venna.

Akhirnya, Venna pun bersedia bergabung ke partai yang sama dengan suami, Partai Demokrat. "Karena Mas Ivan di Demokrat sudah sejak 2003. Saya enggak tahu posisinya di DPP, mungkin kader kali, karena waktu itu saya tidak tahu organisasi partai. Saya tahunya ketika 2009 ikut caleg," ujarnya.

Menurutnya, sang suami mendapat tugas dari PD untuk membantu memenuhi kuota 30 persen keterwakilan caleg perempuan.

"Jadi dia kan harus mencari-cari tuh, saya lah diminta, di-recommend," ungkapnya.

Kali ini, Venna mengaku tak berpikir lama untuk membuat keputusan atas tawaran suaminya itu. Ia pun langsung menyetujuinya. Itu dilakukan karena Venna merasa waktu berpikir terjun ke dunia politik sudah dijalani selama lima tahun sebelumnya atau sejak mendapat tawaran dari Sys NS.

"Memang, selain Mas Ivan yang menyuruh karena saya penari bajunya seksi dan menari dengan penari Latin, istilahnya intim, and jealous (cemburu), jadi intinya saya harus menurut pada suami, harus patuh. Lalu ketika ngobrol dengan Mas Ivan, langsung OK, oh iya," jelasnya.

Alasan lain Venna cepat mengambil keputusan bersedia menjadi caleg karena memang fokus sebagai pekerja sosial terhadap kehidupan anak jalanan atau kolong jembatan. Dan diharapkan, dengan menjadi anggota DPR yang memiliki fungsi pengawasan, legislasi, dan penganggaran, maka ruang lingkup perannya sebagai pekerja sosial akan semakin luas dan memberikan manfaat yang semakin signifikan.

"Saya concern pada anak jalanan sejak dahulu tapi saya tidak bisa berbuat yang signifikan, dengan mengasih makan dan memberi uang Rp 10 ribu, tapi kan nothing to do. Dengan seperti saya sekarang duduk di DPR, saya bisa bebas kapanpun ke kolong jembatan di Jabodetabek meski itu bukan dapil saya, sampai ada yang salah persepsi saya akan jadi wali kota," paparnya.

"Yang saya kunjungi kolong jembatan bukan isu yang seksi, yang saya kunjungi pendidikan informal kaum marjinal, itu yang saya kritisi. Mereka ingin dong punya komputer, pendidikan layak, punya akses seperti komputer dan akses teknologi. Tapi, biasanya kan mereka tidak diterima kalau sekolah di sekolah biasa," tambahnya.

Venna mengaku pada saat itu "buta" tentang politik dan bingung harus memulai dari mana bila ingin menjadi anggota DPR. Karena itulah, sang suami pula yang mendukung dan membantunya hingga menjadi anggota DPR.
"Dapil saja, saya enggak tahu. Jadi, dia semuanya yang mengurus sampai akhirnya jadi di DPR," ujarnya.

Venna adalah perempuan kelahiran Surabaya, 20 Juli 1972. Namun, pada saat itu dia memilih menjadi caleg dari Dapil Jatim VI, yang meliputi Kabupaten Tulungagung, Kota Kediri, Kota Blitar, Kabupaten Kediri, dan Kabupaten Blitar.

Ada cerita tersendiri, mengapa sampai Venna memilih dapil yang berbeda dengan tanah kelahirannya, atau tempat dirinya dibesarkan, yakni Dapil Jatim V.

Pemilihan Dapil itu bukan tanpa alasan Jatim VI, Tulunganggung, Blitar, Kediri bukan tanah kelahirannya. Ada peran mantan Ketua Umum PD, Anas Urbaningrum untuk perjalanan politik Venna pada saat itu.

Pada saat itu, Anas menyarankan Venna agar menjadi caleg dari dapil yang sama dengan dirinya.

"Keinginannya saya di dapil Bali, karena saya kan orang Bali (ibunda Venna asal Bali). Tapi, saran dari Mas Anas, sudah ikut Dapil saya saja, Dapil Jatim VI itu kan Dapilnya Mas Anas. Jadi, akhirnya saya ikut Mas Anas," ungkap Venna.

Venna mengaku bersyukur dan beruntung dengan menuruti saran dari Anas itu. Akhirnya Venna pun lolos dan terpilih dari dapil tersebut gara-gara mendapat limpahan sisa suara pemilih yang diperoleh oleh Anas.

"Alhamdulillah, keberuntungan saya ada di situ. Karena suara (pemilih) Mas Anas kan sudah memenuhi BPP (Bilangan Pembagi Pemilih) dan sisa suaranya ke saya. Jadi, saya malah beruntung ikut Mas Anas. Itulah jalan Tuhan, karena kalau saya di Jabar V, mungkin belum tentu saya jadi anggota DPR RI," ucapnya.

Penulis: Abdul Qodir
Editor: Willy Widianto
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1564771 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas