• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 17 September 2014
Tribunnews.com

Plan+ akan Pameran Foto Karya Suku Asmat

Rabu, 20 Maret 2013 21:54 WIB
Plan+ akan Pameran Foto Karya Suku Asmat
/TRIBUNNEWS.COM/DEWI AGUSTINA
STAF HUMAS PEMDA ASMAT KUNJUNGI TRIBUNNEWS - Empat staf Humas Pemerintah Daerah Kabupaten Asmat, Provinsi Papua, berkunjung ke redaksi Tribunnews bersama dengan Komunitas Plan Positivity diantaranya Fiona Callaghan, Anton Bayu Samudra, Rabu (20/3/2013) di Jakarta. (TRIBUNNEWS.COM/DEWI AGUSTINA)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Plan+, komunitas masyarakat, berencana menggelar pameran foto masyarakat Asmat di Jakarta dalam waktu dekat.

Menurut Anton Bayu Samudra, anggota Plan+ saat berbincang-bincang dengan Tribunnews.com, Rabu (20/3/2013), saat ini terdapat sekitar 100 pelaku social documentary di antara penduduk Suku Asmat.

"Ada lebih dari 100 pelaku Social Documentary, kami minta 10 terbaik untuk pameran di Jakarta. Saat ini kami sedang mencari tempat untuk acara ini," ujarnya saat berkunjung ke Kantor Tribunnews.com.

Anton membeberkan, pihaknya sudah mendampingi masyarakat Asmat untuk menjadi pelaku jurnalis warga sejak 2010. Sejumlah bimbingan yang diberikan kepada suku Asmat, lanjutnya, dengan memberikan pendidikan dan pelatihan jurnalistik.

"Kami melibatkan sejumlah jurnalis di Tanah Air," ucapnya.

Bak gayung bersambut, para penduduk Asmat sangat antusias mengikuti pelatihan. Hasilnya, saat ini sudah banyak anggota Suku Asmat yang sudah mahir menggunakan kamera SLR, serta menulis naskah dan narasi.

"Mereka banyak mau terlibat, tapi terbatas jaringan dan infrastruktur. Awalnya mereka hanya menggunakan kamera telepon, tapi sekarang sudah banyak yang menggunakan kamera SLR," ungkap Anton.

Hasil foto mereka, papar Anton, kebanyakan mengenai alam Papua, budaya, hingga keseharian mereka.

"Foto mereka bagus-bagus," katanya.

Ketika ditanya apa alasan Plan+ memperkenalkan jurnalistik kepada masyarakat Asmat, Anton mengatakan agar masyarakat Asmat dapat menyuarakan isi hati dan pikiran mereka ke luar.

"Kami melihat teman-teman di Indonesia Timur begitu susahnya disamakan dengan teman lain dari Indonesia. Mereka butuh bantuan, tapi yang kami inginkan adalah membuat mereka bergerak dan membantu diri mereka sendiri. Jadi, pada awalnya kami pikirkan sosial mereka, lalu kami berikan pelatihan jurnalistik biar mereka bisa menyuarakan diri mereka sendiri," jelasnya. (*)

Penulis: Samuel Febrianto
Editor: Yaspen Martinus
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1577461 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas