• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 31 Oktober 2014
Tribunnews.com

Pengusaha Pastikan Harga Barang Tak Naik

Rabu, 17 April 2013 20:13 WIB
Pengusaha Pastikan Harga Barang Tak Naik
KOMPAS/PRIYOMBODO
Pengendara sepeda motor mengisi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi ke kendaraannya di Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU) 34.10102 di Jalan KH Hasyim Ashari, Jakarta, Jumat (5/4/2013). Pemerintah berusaha merumuskan solusi pengendalian bahan bakar minyak bersubsidi mengingat kuota bulanan untuk periode Januari-Maret sudah jebol 6 persen. KOMPAS/PRIYOMBODO

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mendukung pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi. Termasuk jika pemerintah menerapkan dua harga untuk bensin Premium menghemat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Berdasarkan hitung-hitungan pemerintah, jika harga BBM tidak jadi naik, maka pemakaian BBM bisa meloncat menjadi 53 juta kiloliter dari target tahun 2013 hanya 46 juta kiloliter (kl).

"Kami mendukung naiknya BBM karena kondisi saat ini sudah tidak sehat. Keuangan terganggu, cadangan devisa turun dan rupiah melemah," ungkap Wakil Sekjen Apindo Franky Sibarani kepada Tribunnews.com, Jakarta, Rabu (17/4/2013).

Franky juga menegaskan pelaku usaha tidak akan menaikkan harga barang akibat kebijakan pemerintah yang akan menaikkan harga BBM subsidi untuk mobil pribadi menjadi Rp6.500 per liter.

Pasalnya, industri tidak akan terpengaruh dengan naiknya harga BBM. "Tidak. Industri sudah ikuti harga BBM dunia," jelasnya.

"Secara umum ya, harga BBM naik, tidak akan diikuti kenaikan harga barang. Karena juga BBM untuk kendaraan umum masih subsidi," tegas Franky.

Sebelumnya, Kebijakan pemerintah menerapkan dua harga untuk bensin Premium menghemat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Berdasarkan hitung-hitungan pemerintah, jika harga BBM tidak jadi naik, maka pemakaian BBM bisa meloncat menjadi 53 juta kiloliter dari target tahun 2013 hanya 46 juta kiloliter (kl).

Namun jika harga BBM bersubsidi naik khusus untuk kendaraan pribadi menjadi Rp 6.500 per liter, maka pemerintah bisa menghemat 4,5 juta kiloliter. "Konsumsi tetapi akan naik sekitar 48,5 juta kl, tapi ini sesuai kenaikan pertumbuhan," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa usai rapat terbatas soal BBM di kantor presiden, Rabu (17/4).

Menurut Hatta, skema dua harga ini merupakan pilihan yang terbaik dari semua opsi yang dimiliki. Pengurangan subsidi bagi masyarakat mampu didasarkan prinsip keadilan, penyehatan fiskal, dan perekonomian. Sementara subsidi penuh tetap diberikan kepada masyarakat yang tidak mampu, seperti pada angkutan umum. "Itu semua tetap disubsidi penuh,"tegas Hatta.

Pemerintah tidak mencabut subsidi bagi kalangan mampu karena banyak pertimbangan. Salah satunya alasanya, karena ada masyarakat menengah yang baru saja menjual motor dan membeli mobil yang agak tua. Mereka ini juga tidak terlalu kaya, tapi juga tidak terlalu miskin. Nah, agar ekonomi mereka tidak langsung jatuh pasca kenaikan harga BBM, maka mereka juga tetap mendapatkan subsidi meskipun nilainya lebih kecil.

Mulai Mei nanti, pemerintah akan menjual Premiun dengan skema dua harga yakni Rp 4.500 per liter untuk kenderaan roda dua dan plat kuning. Sementara Premium untuk mobil pribadi atau plat hitam akan dijual dengan harga Rp 6.500 per liter. Sebagai pembanding, harga keekonomian bensin saat ini sebesar Rp 9.500 per liter.

Dengan kebijakan baru ini, pemerintah akan memberikan subsidi BBM bagi kalangan menengah ke atas sebesar Rp 3.000 per liter dan bagi kalangan miskin sebesar Rp 5.000 per liter.

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Johnson Simanjuntak
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas