• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 29 Agustus 2014
Tribunnews.com

Menelisik Nama Calon Kapolri

Minggu, 21 April 2013 18:34 WIB
Menelisik Nama Calon Kapolri
TRIBUNNEWS.COM/BIAN HARNANSA
Irjen Imam Sudjarwo

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Adi Suhendi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bursa calon Kapolri pengganti Jendral Polisi Timur Pradopo merupakan pertarungan jebolan Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan 1981, 1992, 1983, dan 1984. Nama-nama jenderal bintang dua dan bintang tiga kepolisian saat ini sudah bisa terpetakan dengan melihat masa tugas.

Peluang bagi jendral bintang dua untuk menduduki kursi Kapolri tinggal menunggu pensiunnya Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia Komjen Pol Nanan Soekarna.

Pria asal Purwakarta Jawa Barat tersebut akan mengakhiri masa tugasnya pada akhir Juli 2013. Bagaimana pun, seorang calon Kapolri yang akan disodorkan ke DPR RI minimal harus menyandang bintang tiga di pundaknya.

Jabatan yang diduduki jenderal polisi bintang tiga diantaranya Kepala Badan Intelejen dan Keamanan (Kabaintelkam) yang kini dijabat Komjen Pol Suparni Parto, Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) yang saat ini dijabat Komjen Pol Oegroseno, Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) yang kini dijabat Komjen Pol Sutarman, Kepala Lembaga Pendidikan Polri (Kalemdikpol) yang kini dijabat Komjen Pol Budi Gunawan, Inspektorat Pengawasan Umum (Irwasum) Komjen Pol Imam Sudjarwo, dan Kepala Badan Narkotika Nasional yang saat ini dijabat Komjen Pol Anang Iskandar.

Sehingga bila Nanan Soekarna pensiun otomatis akan ada jabatan untuk posisi bintang tiga yang kosong. Itulah kesempatan bagi para jenderal bintang dua untuk menjadi Kapolri. Bila pergantian Kapolri dilakukan Agustus 2013 (seharusnya Januari 2014 pada saat Timur Pradopo Pensiun), maka di tataran pejabat Polri yang menyandang bintang tiga di pundaknya saat ini dari segi usia dan masa tugas maka hanya tiga jendral bintang tiga yang memiliki peluang besar.

Pertama, Komjen Pol Sutarman, pria kelahiran Sukopharjo, Jawa Tengah, 5 Oktober 1957 ini merupakan jebolan Akademi Kepolisian tahun 1981. Ia pernah menjadi ajudan presiden di era pemerintahan Abdurachman Wahid. Kemudian ia pernah menjabat Kapolda Kepulauan Riau, Jawa Barat, Metro Jaya, sampai akhirnya menjadi Kabareskrim  ada pertengahan tahun 2011.Bila dilakukan pergantian Kapolri pada Agustus 2013 maka Sutarman masih memiliki masa tugas dua tahun lebih.

Kedua, Komjen Pol Anang Iskandar. Pria kelahiran Mojokerto, Jawa Timur, 18 Mei 1958 aktif menjabat sebagai kepala BNN pada Desember 2012.

Dalam satu tahun di 2013, Anang menduduki dua kali posisi bintang dua dan  hanya berselang beberapa bulan langsung menduduki sebagai Kepala BNN yang notabene dijabat jendral polisi Bintang tiga. Setelah menjadi Kapolda Jambi, Anang diberi tugas menjadi Kepala Divisi Humas Polri dan mendapatkan bintang dua dalam jabatan tersebut, berselang kurang dari dua  bulan, Anang ditugaskan menjadi Gubernur Akademi Kepolisian Semarang menggantikan Djoko Susilo,
tidak lama kemudian ia dipercaya menjadi Kepala BNN menggantikan Gories Mere. Untuk menjadi Kapolri Anang mempunyai masa tugas sekitar tiga tahun.

Ketiga, Komjen Pol Budi Gunawan, pria jebolan Akpol tahun 1983 ini merupakan mantan ajudan presiden era pemerintahan Megawati Soekarno Putri. Ia pun sempat menjadi Kapolda Jambi saat menjadi jendral polisi bintang satu, kemudian ia dipercaya menjadi Kepala Divisi Propam Polri, sampai akhirnya menjadi Kapolda Bali, dan kini menjabat sebagai Kalemdipol Polri. Dari sisi usia Budi Gunawan merupakan jendral bintang tiga termuda dibandingkan yang lainnya.

Sementara, jendral bintang tiga yang memiliki peluang menjadi Kapolri tetapi sangat kecil kemungkinannya diantaranya;

Pertama, Komjen Pol Oegroseno. Pria kelahiran Pati, Jawa Tengah, 17 Februari 1956 ini namanya dikenal luas. Ia sudah beberapa kali menduduki posisi penting dalam struktur Polri.

Ia pernah menjadi Kepala Divisi Propam Polri, kemudian menjadi Kapolda Sumatera Utara, Kalemdikpol, sampai akhirnya menjadi Kabaharkam Polri. Dari sisi masa tugas jebolan Akpol 1978 ini masih memiliki waktu berdinas di kepolisian kurang dari satu tahun lagi.

Kedua, Komjen Pol Imam Sudjarwo. Pria kelahiran tahun 1955 dalam waktu dekat akan memasuki masa pensiun. Jebolan Akpol 1980 ini pun namanya sudah malang melintang di dunia kepolisian. Ia besar di Korps Brimob sampai akhirnya menjadi Kapolda Bangka Belitung.

Namanya mencuat pada saat masuk bursa calon Kapolri pengganti Bambang Hendarso Danuri. Saat itu, ia diberikan posisi sebagai Kabaharkam Polri. Kemudian Imam dimutasi menjadi Kabaintelkam, dan saat ini menjabat Itwasum Polri.

Ketiga, Komjen Pol Suparni Parto. Pria kelahiran 7 September 1956 ini merupakan jebolan Akpol 1980. Sepanjang karirnya di kepolisian ia lebih banyak bergelut menduduki jabatan-jabatan intelkam sampai akhirnya menjabat sebagai Wakabaintelkam. Saat Imam Sudjarwo dipercaya menjadi Itwasum, ia pun kemudian dipercaya memegang jabatan Kabaintelkam.

Sementara di tataran bintang dua yang memiliki peluang menjadi Kapolri diantaranya Kapolda Metro Jaya Irjen Putut Eko Bayuseno Akpol 1984, Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Tubagus Anis Angkawijaya Akpol 1981, Kapolda Bali Irjen Pol Arif Wachyunadi Akpol 1984, Kapolda Kalimantan Timur Irjen Pol Anas Yusuf Akpol 1984, Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol Saud Usman Nasution Akpol 81, Kapolda papua Irjen Pol Tito Karnavian Akpol 1987, Asops Kapolri Irjen Pol Badrodin Haiti Akpol 1982. Hal tersebut dilihat dari masa tugas.

Sementara Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol Mudji Waluyo Akpol 1978, Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro Akpol 1978, Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Hadiatmoko Akpol 1978, dan Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Didiek S Triwidodo Akpol 1978, keempat Kapolda tersebut sebentar lagi akan mengakhiri masa kedinasannya di kepolisian karena pensiun.

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengungkapkan pihaknya akan menelusuri rekam jejak sembilan perwira tinggi polri yang memiliki peluang menjadi Kapolri. Sembilan perwira tinggi tersebut berpangkat inspektur jenderal polisi dan komisaris jenderal polisi untuk kemudian disodorkan kepada presiden.

Anggota Kompolnas Adrianus Meliala mengungkapkan bahwa Kompolnas saat ini menentukan sembilan orang tersebut dengan melihat usia dan pernah menjabat sebagai Kapolda tipe A.

"Ada sembilan orang yang kita lihat rekam jejaknya. Dalam menentukan nama-nama itu, kami lebih melihat pada usia belum mendekati pensiun, dan pernah mimpin Kapolda tipe A," kata Adrianus beberapa waktu lalu.

Menurut Adrianus, pihaknya akan melihat rekam jejak kekayaan, karir, serta prestasinya. Khusus dalam rekam jejak harta kekayaan ada kontigensi kewajaran dalam kehidupan seseorang, artinya orang yang taat hukum itu kelihatan hartanya dari tahun ke tahun.

"Tidak mungkin dia tiba-tiba seperti Djoko (Susilo), tentu ada tracknya. Yang kita lihat tracknya, bagaimana sih selama karirnya dari Ipda sampai sekarang, tentu ada informasinya," ucapnya.

Sejauh ini Kompolnas mendapatkan informasi yang cukup banyak sehingga bisa ditarik benang merah terhadap diri seseorang.

"Tentu saja rekam jejak ada kemungkinan salahnya, tapi kalau lihat selama ini rekam jejaklah yang bicara siapa sebenarnya orang itu, bukan omongan tulisan, tapi lebih pada latar belakang paling berbicara," ungkapnya.

Apakah dari sembilan orang itu Kompolnas sudah melihat ketidakwajaran harta kekayaan atau sebagainya? Adrianus tidak mau menjawabnya, menurutnya masih dirahasiakan. Dalam menelusuri rekam jejak, Kompolnas hanya memakai pendekatan informasi publik yang sudah muncul di media massa kemudian dilakukan klarifikasi. Nanti setelah selesai rekam jejak tersebut akan diserahkan kepada presiden.

"Yang diserahkan pada presiden hanya nama dan komentar, rangkum agak menyeluruh, temuan, masukan, hasil polling," ujarnya.

Penulis: Adi Suhendi
Editor: Dewi Agustina
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
1 KOMENTAR
1696052 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
  • la_purga-Sabtu, 4 Mei 2013 Laporkan
    Anggota Kompolnas, Adrianus Meliala, telah menyatakan bahwa salah satu kriteria calon Kapolri mendatang adalah pernah memimpin Polda tipe-A. Jadi seharusnya Komjen Anang Iskandar tidak masuk hitungan karena beliau tidak memenuhi kriteria tsb.
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas