Kamis, 18 Desember 2014
Tribunnews.com

KPK Serius Garap Dugaan Suap Pengacara ke Pejabat MA

Selasa, 7 Mei 2013 15:06 WIB

KPK Serius Garap Dugaan Suap Pengacara ke Pejabat MA
net
KPK

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) serius menggarap dugaan korupsi yang diduga dilakukan hakim di Mahkamah Agung. Kasus ini sebelumnya dilaporkan oleh Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI).

"Laporannya ada, masih terus ditelaah KPK," kata Juru Bicara KPK, Johan Budi melalui pesan singkatnya, Selasa (7/5/2013).

Kendati demikian, sejauh ini terang Johan, pihaknya belum memintai keterangan terkait pihak-pihak yang diduga mengetahui kasus tersebut.

"Kami baru validasi laporannya," tegas Johan.

Diberitakan sebelumnya, Pengacara Lucas dari kantor advokat Lucas, SH dan Patners dilaporkan ke KPK lantaran diduga melakukan praktek suap terhadap hakim agung yang menanganinya kasus di Mahkamah Agung (MA).

Dalam laporan TPDI, pihaknya memberikan sejumlah dokumen pembukuan aliran dana dari pengacara Lucas ke hakim agung.

"Seluruh dokumen berupa catatan keuangan serta bukti pendukung lain, kita sudah serahkan," kata Ketua TPDI Petrus Selestinus di kantor KPK, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Petrus juga mengungkapkan, dari beberapa dokumen itu, ada nama-nama pejabat yang memiliki kedudukan penting di MA yang dilaporkan ke KPK. Bahkan Petrus mengatakan, untuk memastikan bukti-bukti tersebut, pihaknya sudah melakukan konfirmasi kepada pihak pemberi suap ke para hakim itu.

"Setelah kita konfirmasi mereka juga membenarkan telah membayar. Mereka memberi berapa, terus disetorkan kemana. Nanti dari mereka disebarkan kepada siapa-siapa yang menerima," ujarnya.

Namun saat disinggung siapa hakim tersebut, Petrus enggan menyebutkan. Menurutnya biarkan KPK bekerja terlebih dahulu.

Dia mengatakan, ada saksi kunci yang siap mengungkap kasus tersebut. Dia bernama Sanusi Wiradinata.

Menurutnya, Sanusi merupakan pihak yang paling tahu soal adanya dugaan suap yang dilakukan Lucas. Pasalnya, Sanusi sempat akrab dengan orang dekat Lukas bernama Safersa Yusan Sertana. Wanita yang akrab disapa Yusan itu merupakan sekertaris pribadi Lucas yang bisa mencatat lalu lintas keuangan kantor Lucas.

Yusan terang Sanusi, kerap diperintahkan Lucas 'mendistribusikan' uang-uang terkait penanganan perkara. Termasuk ke lingkungan Mahkamah Agung (MA).

Sementara itu, Lembaga Perlindungan saksi dan Korban (KPK) membenarkan Sanusi telah menjadi kliennya saat ini. Perlindungan diberikan mengingat kasusnya cukup besar dan melibatkan pejabat-pejabat tinggi di lembaga yudikatif.

"Sanusi sudah menjadi klien kami, melalui keputusan rapat paripurna pada April 2013 lalu," kata Juru Bicara LPSK, Maharani Siti Shopia.

Penulis: Edwin Firdaus
Editor: Johnson Simanjuntak

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas