• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 30 Agustus 2014
Tribunnews.com

Operasi Densus 88 Jangan Jadi Teroristainment

Jumat, 10 Mei 2013 11:26 WIB
Operasi Densus 88 Jangan Jadi Teroristainment
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Anggota Densus 88 mendekati rumah kontrakan yang berisi empat orang terduga teroris saat terjadi baku tembak di Kampung Batu Rengat, Desa Cigondewah Hilir, Kecamatan Marga Asih, Kabupaten Bandung, Rabu (8/5). Baku tembak dan pengepungan yang terjadi dari pukul 11.00 hingga 17.15 WIB tersebut berakhir dengan 3 orang terduga teroris tewas dan 1 orang ditangkap. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN) 

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA - Densus 88 melakukan operasi penangkapan terduga teroris di beberapa kota. Di Bandung berlangsung sekitar 8 jam, 3 terduga tewas.

Operasi juga dilakukan di Tangerang Selatan, Kendal dan Kebumen. Hasilnya, 13 orang ditangkap dan 7 orang terduga teroris tewas.

"Kita patut apresiasi kerja Densus 88. Namun di sisi lain,operasi berdurasi panjang, patut dievaluasi dan diaudit. Kenapa begitu lama? Dan sudahkan sesuai prosedur? Apakah memang bisa diliput live oleh media?" kata Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Fadli Zon,Jumat (10/5/2013).

Operasi didukung aparat cukup banyak, yakni 18 orang tim Densus 88 dibantu tim Polda Jabar dan Polres Bandung.
Operasi yang dilakukan, ujarnya, seharusnya bisa lebih singkat.
Apalagi jumlah terduga teroris jauh lebih sedikit dan minim perlawanan. Peluru royal sekali berhamburan tapi terlihat satu arah.

"Apakah memang ada baku tembak?
Tak perlu rakyat disuguhkan Teroristainment.Berbahaya," tegas Fadli.

Operasi terbuka dan panjang seperti ini, menurutnya bisa memicu radikalisme baru atau dendam lebih hebat dari kerabat dekat, apalagi kalau diyakini  belum tentu mereka benar-benar teroris. Status baru terduga saja.

Prosedur operasi penangkapan teroris  juga harus memperhatikan aspek penegakan hukum dan HAM. Seseorang yang baru menjadi terduga, harusnya diberi hak untuk keadilan.

Kadang perlakuan di lapangan terhadap seseorang yang baru saja terduga teroris kurang memperhatikan kaidah HAM, padahal ditonton oleh publik. Seperti terjadi kesalahan pemukulan terhadap warga, dalam operasi penangkapan teroris di Karanganyar 2012 lalu.

Menurut Fadli, pemberantasan terorisme, harus diiringi  pencegahan sistemik. Kemiskinan dan ketidakadilan, kunci utama kenapa benih radikal teroris masih mudah bermunculan.

"Upaya balas dendam terhadap tindakan aparat yang represif, bisa juga menjadi alasan munculnya kembali aktivitas radikal teroris. Tokoh-tokoh agama perlu dilibatkan agar ada persuasi. Jangan ulang kesalahan kekerasan di Guantanamo dan Abu Ghuraib," pungkas Fadli Zon.

Penulis: Rachmat Hidayat
Editor: Willy Widianto
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
3 KOMENTAR
1768671 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
  • Yefta Hidayat-Jumat, 10 Mei 2013 Laporkan
    pemberantasan terorisme harus didukung, termasuk mendukung densus 88 untuk bekerja lebih baik dari pencapaiannya selama ini. Maju terus densus 88!
  • karmapala-Jumat, 10 Mei 2013 Laporkan
    Banyak bacot nih orang
  • NKRI-Jumat, 10 Mei 2013 Laporkan
    paling enak dan gampang itu ngomong karena lidah tidak bertulang.yang susah itu aplikasi di lapangan.belum tentu hebat dan bisa menjabarkan aplikasi orang yang suka banyak ngomong.
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas