Selasa, 23 Desember 2014
Tribunnews.com

Aib Menteri Suswono Terkuak di Persidangan

Sabtu, 18 Mei 2013 09:45 WIB

Aib Menteri Suswono Terkuak di Persidangan
TRIBUN/DANY PERMANA
Menteri Pertanian yang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera Suswono (tengah) saat akan bersaksi dalam sidang terdakwa Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Jumat (17/5/2013).

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA--Menteri Pertanian Suswono akhirnya mengakui hadir dalam pertemuan dengan Direktur Utama PT Indoguna Utama Maria Elizabeth Liman di Hotel Aryaduta, Medan.

Pertemuan itu difasilitasi mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq untuk memcocokkan data PT Indoguna dengan data Kementan terkait kebutuhan daging sapi nasional. Dua bulan lalu, Suswono berkeras tidak ikut pertemuan tersebut.

"Pertemuan di Medan itu difasilitasi oleh Pak Luthfi," kata Suswono saat bersaksi di sidang perkara korupsi kuota impor daging sapi di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Jumat (17/5/2013). Suswono bersaksi untuk terdakwa Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi.

Menurut Suswono, kehadirannya di Medan untuk kunjungan kerja ke Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara dan juga diundang mengikuti Safari Dakwah PKS di Medan.

Namun, dia saat itu tiba-tiba disampaikan stafnya Suwarso, diundang Luthfi untuk bertemu di kamarnya di Hotel Aryaduta Medan. Untuk mendengarkan presentasi dari Maria Elizabeth Liman soal krisis daging. Malam sebelumnya, Suwaros terlebih dahulu menyerahkan materi.

Suswono penuhi undangan itu dengan pertimbangan lokasi pertemuan satu arah menuju Deli Serdang, dan tidak berlangsung lama.
Suswono mengakui pertemuan yang berlangsung sekitar 20 menit itu tidak menghasilkan apa pun, karena dia tidak sepakat dengan data-data yang dipaparkan Maria Elizabeth Liman. Data- data itu bertentangan dengan data yang diyakininya hasil penelitian dari IPB, dan menjadi pemicu perdebatan dengan Maria.

Suswono bahkan sempat emosi saat adu mulut perihal data yang diajukan Maria terkait kebutuhan daging sapi nasional. "Saya sempat marah, karena data kementan dibilang tidak valid. Padahal data yang kami punya dari penelitian resmi IPB. Lalu saya bilang ke Elisabeth data dia dari mana? Dia tidak jawab. Kami sarankan ke ahli dan lakukan penelitian dahulu, lalu buat seminar, baru kami akan datang untuk mendengar kajian tersebut," kata Mentan Suswono.

Dalam pertemuan di Medan, hadir pula mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq, Ahmad Fathanah, dan staf pribadi Mentan, Suwarso. Namun, tidak ada Elda Davianne Adiningrat.

Kader PKS itu juga tegas membantah dalam pertemuan itu, Maria Elizabeth meminta penambahan kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian yang dipimpinnya. "Tidak ada pembicaraan seperti itu," kata Suswono menjawab pertanyaan Ketua Majelis Hakim Suhartoyo.

Masih terkait kuota impor, Suswono mengungkapkan adanya peluang penambahanan kuota impor daging sapi tahun 2013, meski  jatah kuota sudah dibagi habis pemerintah. Karena kuota impor daging sapi mempertimbangkan kondisi kebutuhan lapangan. "Jadi sifatnya situasional," kata Mentan.

Menurut Mentan, sesuai hasil rapat Menko Perekonomian, kuota impor daging sapi tahun 2013, sebanyak 80 ribu ton. Siapa saja yang mendapat jatah itu, diputuskan tim dari lintas Kementerian. Seperti dari Kemen Perindustrian dan Kementan, Perdagangan. "Kementan hanya merekomendasikan perusahaan-perusahaan masuk syarat bisa mengimpor," kata Mentan.

Sebelumnya, Mentan Suswono beberapa kali membantah isu yang menyebutkan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq pernah menghubunginya untuk menambah kuota impor daging sapi. "Enggak ada, enggak ada," kata Suswono kepada wartawan di Kemenko Perekonomian, Jakarta, 31 Januari, sehari setelah Luthfi ditangkap KPK.

Kemudian 12 Februari, Suswono kembali membantah tersangkutpaut dalam skandal korupsi yang melibatkan importir daging sapi terbesar dari Australia dan Amerika Serikat - PT Indoguna Utama.  Usai diperiksa sebagai saksi untuk Luthfi, sekitar pukul 20.20, Suswono mengatakan, salah satu pertanyaan penyidik KPK adalah soal pertemuan di Medan.

"Intinya, saya sebagai saksi menjelaskan apa adanya, bahwa saya sama sekali tidak terkait dengan kasus keempat tersangka. Jadi, tidak ada terkait langsung dengan saya," ujarnya.

Dua mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera, Hidayat Nur Wahid dan Tifatul Sembiring juga pernah ke Medan, Sumatera Utara bersama dengan Direktur Utama Indoguna Utama Maria Elisabeth Liman. Perjalanan mereka dilakukan 10 Januari 2013 atau sebelum terjadi operasi tangkap tangan KPK terkait pengurusan kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian.

"Maria diduga mengadakan perjalanan ke Medan bertemu Menteri Pertanian bersama Elda, LHI, Ahmad Fathanah, Hidayat Nur Wahid, Tifatul Sembiring, dan beberapa Politisi PKS," kata penyelidik KPK, Amir Arief saat bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Selatan.

Menurut Arief, Hidayat Nur Wahid dan Tifatul Sembiring berada satu pesawat dengan Maria, Elda, Ahmad Fathanah, serta Luthfi Hasan Ishaaq. Mereka di pesawat sama-sama berada dalam kelas bisnis. "Hidayat dan Tifatul Sembiring bertegur sapa dengan Maria seperti sudah kenal akrab," terang Arief.

Sesampainya di Bandara Polonia, Medan, Hidayat Nur Wahid dan Tifatul Sembiring sempat bersama Maria di ruang tunggu eksekutif sebelum akhirnya bersama-sama ke Hotel Arya Duta, Medan.
"Besok harinya, sekitar jam 6 pagi (waktu setempat), saya melihat Menteri Pertanian datang ke Aryaduta masuk ke kamar LHI. Ada Maria, Suwarso, dan Fathanah," kata Arief.

Tersangka kasus suap impor kuota daging sapi, Ahmad Fathanah mengakui berprofesi sebagai makelar proyek, dan kerap menjual nama Partai Keadilan Sejahtera termasuk Presiden PKS Lutfi Hasan Ishaaq.

Dalam pemeriksaan sebagai saksi untuk dua petinggi PT Indoguna Utama Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (17/5), Fathanah mengakui ia sempat mengajak Luthfi bertemu dengan direktur utama PT Indoguna, Maria Elizabeth Liman serta mantan ketua Asosiasi Benih Indonesia Elda Devianne Adiningrat di Angus Steak, Jakarta membicarakan penambahan kuota Impor daging Sapi.

Maria meminta Luthfi menjembatani pertemuan antara dia dengan Menteri Pertanian Suswono seorang kader PKS agar meloloskan permintaannya menaikkan kuota impor daging Sapi. Lutfhi bersedia membantu Maria jika perempuan asal Sulawesi Selatan itu bersedia menyumbang PKS. Atas jasa Lutfi, PT Indoguna pada 11 Januari 2013 akhirnya presentasi di depan Suswono, di kamar nomor 9006, Hotel Aryaduta Medan.

Suswono menolak permintaan Maria yang beranggapan kuota daging harus dinaikkan. Pascapertemuan di Medan PT Indoguna belum memenangkan penambahan kuota itu. Namun Maria harus membayar Rp 300 juta ke Luthfi atas jasa makelar. Uang itu diserahkan ke Elda kemudian disampaikan ke Luthfi. Namun dalam persidangan Fathanah mengatakan uang tersebut ia habiskan sendiri karena Luthfi tidak menanggapi uang itu. "Uang itu saya gunakan sendiri, untuk keperluan saya sehari-hari," ujarnya.

Fathanah menyarankan Maria untuk menggelar seminar yang mengundang sejumlah stakeholder, yang bisa menyimpulkan masyarakat butuh penambahan kuota impor daging sapi. Maria pun menyanggupinya. Selain itu Maria juga menyanggupi membayar Fathanah dengan fee Rp 5.000 setiap kilogram daging sapi impor, dari 8.000 kilogram yang diajukan PT Indoguna, apabila lobi menaikkan kuota impir daging berhasil diloloskan Kementan.

29 Januari lalu, PT Indoguna Utama melalui Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi menyerahkan uang Rp 1 miliar ke Fathanah. Setelah transaksi itu, Fathanah pun menghubungi Luthfi untuk memberitahu kabar gembira itu dan memintanya untuk segera bertemu.

"Saya bilang kabar gembira dan bilang ada hal yang penting. Itu untuk meyakinkan ustaz Luthfi, kalau tidak bercanda seperti itu, ustad Luthfi susah ditemui," jelasnya.

Uang itu Fathanah akui sebagai bantuan untuk menggelar seminar. Dari uang Rp 1 miliyar itu Fathanah mengambil Rp 10 juta untuk seorang mahasiswi yang menemaninya di kamar hotel Le Meridien, Jakarta, yakni Maharani Suciyono. Rani mengakui dana itu untuk upah bayaran layanan seks kepada Fathanah. Selsebihnya, Rp 10 juta untuk Fathanah.

"Yang satu miliyar untuk seminar, untuk urusan pribadi, dan kalau saya mau sumbangkan ya sumbangkan, tapi belum bulat," jelasnya.
Fathanah mengakui ia sempat menyalurkan uangnya ke PKS, menurutnya ia sudah melakukan hal tersebut sejak tahun 2012 lalu. "Tapi saya bukan kader, boleh cek," kata Fathanah.

Ahmad Fathanah mengaku satu rombongan terbang ke Medan, Sumatera Utara. Dalam pesawat diakuinya ada Luthfi Hasaan Ishaaq, Elda Devianne dan Maria Elizabeth Liman dari PT Indoguna Utama. "Kami satu rombongan," kata Fahtanah saat bersaksi untuk terdakwa suap impor daging, Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi.

Fathanah, tidak menyebut secara langsung adanya Hidayat Nur Wahid dan Tifatul Sembiring di dalam pesawat. Namun, dia menerangkan ada rombongan safari dakwah PKS di pesawat tersebut. "Ada ustaz dan rombongan safari dakwah yang lain," kata Fathanah. (tribunnews/edf/rek)

Editor: Rachmat Hidayat

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas