Heppy Trenggono: Nasib Rakyat Kian Tergusur

Pasca reformasi yang akan memasuki usia 15 tahun, yang terjadi justru memunculkan keprihatinan terhadap ideologi Pancasila

Heppy Trenggono: Nasib Rakyat Kian Tergusur
/TRIBUN MANADO/Rizky Adriansyah
Ilustrasi

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA--Pasca reformasi yang akan memasuki usia 15 tahun, yang terjadi justru memunculkan keprihatinan terhadap ideologi Pancasila. Menurut CEO United Balimuda Group yang juga pemimpin Gerakan Beli Indonesia (GBI), Heppy Trenggono, demokratisasi yang dianggap sukses, ternyata malah menggeser ideologi Pancasila.

"Terkikis, tergeser nilai kerakyatan, permusyawaratan perwakilan dan keadilan sosial. Padahal, demokratisasi hanya sukses secara prosedural saja. Tapi akibatnya liberalisasi dan cengekeraman kapitalisme global demikian mengancam keberlangsungan pasar-pasar tradisional kita, para petani kita," kata Heppy pada acara bedah buku "Meniti Dua Sisi, Diantara Amunisi dan Nurani", karya Mayjen (Purn) Soetoyo NK di Persada Eksekutive Club Halim Perdanakusuma, Senen (20/5/2013

Dikatakan, semua bangsa memang membutuhkan  investasi asing. Akan tetapi, keadaan di Indonesia malah dianggapnya berlebihan. Dalam arti, imbuhnya, investasi masuk sampai menguasai sedemikian rupa. Menyisakan pengusaha asing dan pengusaha besar Indonesia, serta mematikan pengusaha kecil dan menengah kita, karena kalah bersaing.

"Coba bayangkan, sekarang Sukabumi saja ada investasi asing bermodal sangat besar dibidang peternakan ayam petelur. Itu berpotensi mematikan peternak ayam kita. Juga bagaimana besarnya investasi asing di bidang kelapa sawit. Apakah inilah cita-cita reformasi ?"  Heppy mempertanyakan.

Menutnya, reformasi saat ini masih berpihak pada kapitalis. Sehingga nasib rakyat kian tergusur. "Kita memang butuh yang namanya investasi. Tapi, investasi dari mana harus kita perhatikan. Jangan sampai investasi tersebut nantinya hanya berpihak pada pengusaha asing. Ujung-ujungnya rakyat juga yang disengsarakan," ujarnya.

Ketua umum Persatuan Purnawirawan AD Letjen (Purn) Soerjadi mengatakan, saat ini elit politik yang muncul ke permukaan akibat Reformasi justru sibuk berpikir untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan. Menghalalkan segala cara dan melupakan rakyat yang diwakilinya. Terlebih tahun ini makin banyak urusan rakyat banyak yang dikalahkan oleh kepentingan untuk mendapatkan kursi di DPR dan pemerintahan pada Pemilu 2014 mendatang.

"Semua sibuk sendiri-sendiri untuk kepentingan 2014. Kursi rapat di DPR kosong, karena semua terjun ke dapil. Rakyat jadi tidak bisa berharap banyak dengan wakil mereka yang sibuk sendiri-sendiri. Para menteri juga disibukkan mengurus parpolnya juga untuk kepentingan Pemilu 2014. Saya nilai ini sudah menyimpang dari cita-cita reformasi kita," kata Soerjadi yang pernah menjabat sebagai Wakasad.

Editor: Rachmat Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved