• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 26 Oktober 2014
Tribunnews.com

Polri Minta Aiptu Labora Sebut Nama Penikmat Uang Bisnis Kayu dan BBM

Selasa, 21 Mei 2013 03:39 WIB
Polri Minta Aiptu Labora Sebut Nama Penikmat Uang Bisnis Kayu dan BBM
Tribunnews.com/Adi Suhendi
Aiptu Labora Sitorus 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Adi Suhendi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyak kalangan menilai Aiptu Labora Sitorus tidak mungkin menikmati sendiri hasil bisnis ilegalnya. Diduga ada oknum anggota Polri lainnya yang kecipratan uang hasil penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan kayu ilegal dari perusahaan yang dikelola bintara tinggi Polres Raja Ampat tersebut.

Menyikapi hal tersebut, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar meminta supaya Labora membuka semuanya bila ada oknum anggota lainnya yang terlibat.

"Kalau bisa disebutkan saja (namanya) oleh Labora, kita sebutkan, kan ada pemeriksaan. Nanti mudahan-mudahan Labora bisa kooperatif, terbuka kalau dia pernah merasa memberi sesuatu pada siapa, pada siapa. Sangat bagus itu kalau disampaikan dalam pemeriksaan," ujar Boy di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (20/5/2013).

Sebelumnya dalam perbincangan Labora dengan Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) sempat terungkap adanya dugaan anggota Polri lain yang ikut merasakan aliran dana dari bisnis PT Seno Adi Wijaya dan PT Rotua.

"Bila nanti ada indikasi seperti itu dan melanggar hukum pasti diproses," ujarnya.

Diberitakan, Polda Papua telah menetapkan anggota Polres Raja Empat, Aiptu Labora Sitorus, sebagai tersangka kasus penimbunan BBM di Sorong dengan nama perusahaan PT Seno Adi Wijaya dan penyelundupan kayu dengan perusahaan PT Rotua. Dalam perkembangan penyidikan, Labora juga diduga melakukan tindak pidana pencucian uang terkait kedua perusahaan yang dikelola istrinya itu.

Setelah ditetapkan menjadi tersangka, Labora bersama kuasa hukumnya terbang ke Jakarta. Dia meninggalkan tugasnya sebagai anggota Polres Raja Ampat tanpa izin pimpinannya.

Kemudian Labora digelandang ke Mabes Polri setelah mengadu ke Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Sabtu (18/5/2013). Penangkapan Labora terjadi sekitar pukul 20.15 di depan Gedung Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian yang bersebelahan dengan Gedung Kompolnas.

Kasus ini menjadi perhatian publik setelah Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) menyampaikan temuannya, yakni Aiptu Labora melakukan transaksi keuangan mencurigakan selama lima tahun terakhir mencapai Rp 1,5 triliun.

Penulis: Adi Suhendi
Editor: Willy Widianto
0 KOMENTAR
1809262 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas