• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 21 Agustus 2014
Tribunnews.com

Teror Kelompok Santoso dan Bom Bunuh Diri Poso

Selasa, 4 Juni 2013 17:00 WIB
Teror Kelompok Santoso dan Bom Bunuh Diri Poso
ISTIMEWA
Wajah pelaku bom bunuh diri di Poso

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Adi Suhendi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Aksi bom bunuh diri di Mapolres Poso diduga kuat dilakukan kelompok teroris yang dipimpin Santoso alias Abu Wardah. Kelompok Poso saat ini merupakan jaringan teroris yang terkuat setelah beberapa pentolan teroris jebolan Afghanistan dan Moro ditangkap Densus 88 Antiteror Polri.

Tantangan Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso memang langsung mengarah ke Densus 88 Antiteror dan polisi sejak keluarnya surat tantangan yang dikeluarkan resmi dari kelompok tersebut pada Oktober 2012.

Tantangan tersebut merupakan isyarat bahwa kelompok ini akan menjadikan polisi sebagai target mereka. Sebelum beredarnya surat tantangan tersebut dua anggota polisi atas nama Briptu Andi dari Satuan Reskrim Polres Poso dan Brigadir Sudirman yang bertugas di Polsek Poso Pesisir ditemukan tewas saat melakukan penyelidikan terkait jaringan teroris di daerah Dusun Taman Jeka, Poso, Sulawesi Tengah.

Tempat tersebut memang sudah beberapa kali dijadikan tempat pelatihan teror kelompok Santoso. Setelah itu, kepolisian mulai menyisir daerah Gunung Biru yang berada di wilayah Taman Jeka, Poso, Sulawesi Tengah. Dibantu TNI saat itu anggota Polri menyisir tempat latihan para teroris. Saat itu, ditemukan beberapa tempat latihan dan beberapa ranjau bom yang mematikan.

Beratnya medan yang harus disisir membuat kepolisian sulit mencari keberadaan kelompok tersebut. Sampai akhirnya aparat menemukan sebuah ladang milik masyarakat yang dijadikan tempat pelatihan kelompok ini. Sejumlah senjata api pun ditemukan saat itu dan ada beberapa orang yang ditangkap saat itu.

Pengejaran terus dilakukan sampai akhirnya kepolisian menemukan beberapa terduga teroris di perkampungan Poso Pesisir. Bahkan ada beberapa terduga teroris yang terpaksa harus dilumpuhkan karena melakukan perlawanan dengan melemparkan bom rakitan.

Poso pun memanas hingga November 2012. Karena aksi represif kepolisian tersebut, akhirnya banyak warga yang memprotes karena terduga teroris yang tewas merupakan warga setempat.

Kemudian di Gunung Koronjobu yang terletak di Desa Kalora, Tambarana, Poso, Sulawesi Tengah, Kamis (20/12/2012). Sekitar 15 anggota Brimob yang sedang melakukan patroli diberondong tembakan kelompok teroris. Tiga anggota brimob saat itu tewas di lokasi kejadian dengan luka tembak.

Aksi baku tembak tersebut tidak lama setelah Polri menggerebek tempat pelatihan teror di wilayah tersebut tepatnya Rabu (12/12/2012). Saat itu, ada belasan orang yang tergabung dalam kelompok teror melarikan diri.

Tiga anggota Brimob yang gugur saat itu diantaranya Briptu Ruslan dengan luka tembak di kepala, Briptu Wayan Putu Aryawan tertembak di dada, dan Briptu Wanarto yang tertembak di dada.

Sementara tiga anggota Brimob yang terluka saat itu Briptu Eko Wijaya Suparno dengan luka tembak di perut dan tangan, Briptu Siswandi Yulianto dengan luka tembak di leher tembus rahang, serta Briptu Lunggu Anggara yang mengalami luka ringan. Dari anggota yang terluka Briptu Siswandi pun gugur setelah menjalani perawatan di rumah sakit.

Kemudian Pemerintah Daerah, Polri, dan TNI saat itu melakukan operasi terpadu. Sampai akhirnya Poso bisa kembali tenang. Diperkirakan saat itu kelompok teroris yang melakukan pelatihan teror di Gunung Biru banyak yang melarikan diri ke wilayahnya masing-masing.

"Jadi kita tetap yakin bahwa yang saat ini melakukan aksi seperti ini bagian dari kelompok jaringan lama yang pernah selama ini memang melakukan aktivitas teror di Poso," ungkap Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (4/6/2013).

Setelah operasi gabungan dilakukan, banyak anggota kelompok teroris pimpinan Santoso ini kembali ke daerahnya masing-masing. Ada yang ke Sulawesi Tengah, Solo, dan Nusa Tenggara Barat.

Di Sulawesi Selatan Densus 88 Antiteror Polri menembak mati dua terduga teroris yang selama ini sudah menjadi target kepolisian di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (4/1/2013).

Abu Uswah dan Hasan alias Khalil ditembak tim Densus 88 Antiteror Polri di depan Masjid Nur Alfiah, Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar.

Dari kedua pelaku, polisi mendapatkan barang bukti berupa granat aktif dan senjata api. Kemudian pada hari yang sama, di Terminal Daya, Makassar, tim Densus pun menangkap Syarifuddin dan Fadli yang sempat meloloskan diri saat penggerebekan di depan Masjid Nurul Alfiat.

Abu Uswah dan Hasan alias Khalil teridentifikasi terlibat serangkaian aksi teror di Poso, Sulawesi Tengah serta penembakan yang menewaskan empat personel Brimob di Poso. Selain itu Abu Uswah merupakan otak aksi pelempar bom terhadap Gubernur Sulawesi Selatan.

Kemudian, tim Densus 88 Antiteror melanjutkan buruannya ke Dompu, NTB, Jumat (4/1/2013), tim berlambang burung hantu tersebut menembak mati dua teroris Roy dan Bachtiar. Keduanya ditembak karena melawan petugas saat akan ditangkap.
Pengejaran pun berlanjut, Sabtu (5/1/2013), tiga orang teroris kembali ditembak mati di Kebon Kacang, Kelurahan Kandai, Dompu, NTB.

"Bahkan diantara mereka memang ada yang sudah keluar Poso dan tertangkap di luar Poso, sebagaimana yang pernah tertangkap di Sulawsi Selatan, Surakarta, NTB, Jawa Tengah, dan Jawa Barat," ungkapnya.

Penulis: Adi Suhendi
Editor: Willy Widianto
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1867382 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas