Insiden KJRI Jeddah Puncak Kemarahan Bobroknya Pelayanan

Senin, 10 Juni 2013 19:42 WIB

Insiden KJRI Jeddah Puncak Kemarahan Bobroknya Pelayanan
Kompas.com
Kobaran api di halaman KJRI Jeddah, Minggu (9/6/2013) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Eksekutif Migrant CARE, Anis Hidayah mengungkapkan insiden di KJRI Jeddah, Minggu sore, merupakan puncak dari akumulasi kemarahan buruh migran Indonesia yang tidak mendapatkan pelayanan secara memadai dan manusiawi.

Karena selama ini pelayanan yang diberikan pihak KBRI Ryadh maupun KJRI Jeddah, hanya merupakan pelayanan di dalam gedung saja. "Jadi hanya sebatas bagaimana orang diterbitkan dokumennya sudah sampai situ saja," ungkap Anis di kompleks gedung DPR, Jakarta, Senin (10/6/2013).

Tetapi, imbuhnya, pelayanan di luar gedung KJRI dan KBRI, sama sekali tidak ada pelayanan. "Bisa dibayangkan udara diatas 40 derajat celcius, itu tidak ada tenda apa-apa. Jadi seperti berjemur orang untuk mendapatkan surat perjalanan laksana paspor (SPLP)," ujarnya.

Selain itu, para TKI juga tidak mendapatkan suplai air minum dan makanan serta tenaga selama berhari-hari mengantri di tengah terik matahari di depan gedung KBRI maupun KJRI.

Apalagi, sejak Pemerintah Saudi memberikan kemudahan dengan mengumumkan kebijakan amnesti bagi warga negara asing yang overstayer atau kabur dari majian yang dimulai dari 11 Mei hingga 3 Juli 2013, antrian sudah terjadi di KBRI maupun KJRI.

Karena itu, Migran CARE menolak pernyataan pihak KJRI Jeddah, bahwa kebakaran itu terjadi karena ketidaksabaran untuk mengantri. "Itu tidak benar. Ini murni karena puncak kemarahan atas kebobrokan pelayanan," tegas Anis.

Selain itu, kata dia, dalam menghadapi kebijakan amnesti dari pemerintah Saudi Arabiah, pemerintah Indonesia menunjukkan adanya kelamnbanan dan ketidakpastian untuk mengantisipasi puluhan ribu buruh migran yang tengah memproses pemutihan dokumen di KJRI Jeddah.

Halaman
12
Tags
Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Johnson Simanjuntak
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help