Sabtu, 29 November 2014
Tribunnews.com

Keterwakilan Perempuan Indonesia dalam Parlemen Nasional Rendah

Senin, 17 Juni 2013 14:24 WIB

Keterwakilan Perempuan Indonesia dalam Parlemen Nasional Rendah
Warta Kota/Henry Lopulalan
Sejumlah pengurus Partai NasDem memeriksa boks berisi Daftar Caleg Sementara (DCS) yang akan diserahkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Gedung KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Senin (22/4/2013). Partai NasDem mendaftarkan caleg sebanyak 560 orang dengan komposisi keterwakilan perempuan sebesar 39,8 persen untuk 77 Daerah Pemilihan (Dapil). Warta Kota/Henry Lopulalan

TRIBUNNEWS.COM JAKARTA - Dalam potret data kelompok Bank Dunia 2013, menunjukkan proporsi kursi perempuan di parlemen nasional Indonesia masih rendah. Dari 185 negara, keterwakilan perempuan Indonesia berada di urutan ke 93.

Ketua Majelis Nasional Serikat Kerakyatan Indonesia (Sakti), Mulyana Wirakusumah mengatakan, merujuk data tersebut masih membuktikan bahwa proporsi kursi perempuan di parlemen masih sangat rendah.

"Indonesia masih menempati urutan ke-93 dengan persentase 18,5 persen dari 185 negara soal proporsi kursi perempuan di parlemen," ujar Mulyana dalam diskusi 'Peningkatan Kualitas Keterwakilan Perempuan dalam Pemilu 2014' di Jakarta, Senin (17/6/2013).

Menurutunya, dari 185 negara 32 diantaranya sudah mencapai prosentase di atas kuota 30 persen. Rwanda menempati peringkat pertama perempuan di parlemen 56 persen, Andorra 50 persen, Kuba dan Swedia 45 persen, Seyhelles 44 persen.

Senegal dan Finlandia 43 persen, Afrika Selatan 42 persen, Nikaragua, Islandia dan Norwegia 40 persen dan berikutnya Kostarika, Denmark, Belanda serta Timor Leste 39 persen.

Namun begitu, Mulyana mengapresiasi saat ini KPU mampu menguatkan partisipasi perempuan dalam pencalonan di DPR RI lewat affirmative action dengan mensyaratkan 30 persen keterwakilan perempuan di setiap daerah pemilihan.

Ia memprediksi kenaikan pada Pemilu 2014 tidak akan terlampau signifikan atau paling jauh jumlah perempuan tingkat nasional hasil Pemilu 2014 dengan sistem proporsional terbuka nanti hanya berkisar 20 hingga 25 persen.

"Peluang keterpilihan perempuan untuk duduk di DPR hasil pemilu 2014 sangat ditentukan oleh kerja keras serta sumber daya caleg sendiri untuk menarik popularitas, akseptabilitas serta elektabilitas tinggi," terang Mulyana.

Yang tidak kalah penting, lanjut Mulyana, parpol memegang peranan sangat penting mereperesentasikan perempuan dalam parlemen. "Bukan hanya itu, tapi juga dalam mencapai jabatan-jabatan kabinet," tambahnya.

Penulis: Y Gustaman
Editor: Willy Widianto

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas