Jumat, 28 November 2014
Tribunnews.com

Zainul Arifin Pamit Kerja ke Qatar

Senin, 17 Juni 2013 08:00 WIB

Zainul Arifin Pamit Kerja ke Qatar
KOMPAS.com/Erna Dwi Lidiawati
Pelaku bom bunuh diri diperkirakan berumur 30 hingga 40 tahun dengan rambut hitam lurus, kulit sawo matang dan tinggi badan sekitar 165 hingga 170 cm. Bagi yang mengenalinya segera hubungi kantor polisi terdekat 

Tribunnews.com, LAMONGAN - Seusai pernikahan yang umurnya baru setahun, kepada ibunya, Zainul Arifin sempat pamit hendak kerja di Qatar untuk memperbaiki nasibnya dan demi kebahagiaan istrinya yang telah mengandung tujuh bulan ini. Seingat Zumaroh, sekitar Februari Zainul Arifin memang pamit untuk bekerja ke Qatar. Saat itu usia kandungan istrinya baru tiga bulan.

"Waktu memang pamit saya mau bekerja ke Qatar," ungkap Zumaroh kepada Surya Online.

Zumaroh mengaku tidak keberatan dengan kepergian putranya untuk bekerja ke Qatar untuk mencukup kebutuhan hidup keluarga dan istrinya yang telah mengandung itu. Ia tak ada curiga apapun terhadap putranya, karena ia pahan betul bagaimana tabiat Zainul Arifin.

Akhirnya, Februari itu berangkat ke Qatar dan meninggalkan istrinya, Fatimah (30) asal Mojokerto hidup bersama ibunya di Blimbing. Keberangkatan Zainul-pun dilepas istrinya dan menjanjikan hanya setahun bekerja di Qatar sesuai kontrak kerja.

Wahun Irawan, Zumaroh maupun istrinya memang tidak pernah menanyakan bagaimana soal pesryaratan surat-surat administarsi untuk perjalanannya ke Qatar. Karena dianggapnya seperti kerja di Malaysia, keluarga tidak perlu lagi menanyakan semua itu.

Selang seminggu berangkat, Zainul Arifin baru menghubungi ibunya di rumah melalui sambungan ponsel. "Hanya sekali itu komunikasi lewat telepon. Sampai sekarang tidak pernah lagi," ungkap Zumaroh.

Saat telepon, ia mengabarkan kalau sudah sampai di Qatar dan bekerja di bangunan seperti saat di Malaysia. Tak hanya itu, Arifin juga menanyakan kondisi keluarga semua termasuk istrinya, Fatimah. Semua dijawab Zumaroh baik-baik dan Zumaroh juga berpesan agar menjaga diri di perantauan.

Saat hendak mengakhiri pembicaraannya, Zainul memastikan akan pulang sesuai kontrak, yakni hanya setahun. Baik Zumaroh maupun Wahun Irawan tidak berusaha mengingat nomor telepon Arifin.

"Kami menganggap biasa saja, karena pernah juga kerja di Malaysia bersama saya," aku Wahun Irawan.

Saat Surya mencoba untuk menemui Fatimah istri Zainul Arifin, pihak keluarga melarang  lantaran khawatir syok dan kesehatannya turun. Bahkan saat Surya menemui Zaumaroh, Wahun di ruang tamu, istri korban tidak sekalipun menampakkan diri. (*)

Editor: Gusti Sawabi
Sumber: Surya

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas