• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 21 Agustus 2014
Tribunnews.com

Buku Kurikulum 2013 Bebas Diunduh Tanpa Dikenakan Royalti

Sabtu, 13 Juli 2013 19:22 WIB
Buku Kurikulum 2013 Bebas Diunduh Tanpa Dikenakan Royalti
TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Pengunjuk rasa yang tergabung dalam Aliansi Revolusi Pendidikan berunjuk rasa di depan kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di Jakarta Selatan, Kamis (2/5/2013). Aksi yang dilakukan pertepatan dengan hari pendidikan nasional ini, menuntut dihentikannya komersialisasi dan kapitalisasi pendidikan, mencabut ujian nasional, membatalkan kurikulum 2013, serta mencopot Menteri Pendidikan M.Nuh. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Buku-buku kurikulum 2013 bebas diunduh (download) dan digandakan tanpa dikenakan royalti.

Buku ini bisa di-download di website www.belajar.kemdikbud.co.id.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh mengatakan, pihaknya tidak menggunakan copyright di buku ini, karena itu bebas diunduh tanpa keharusan membayar royalti.

Konten buku ini dikendalikan betul untuk menghindari isi-isi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Seperti yang terjadi di sejumlah daerah seperti pemuatan foto Miyabi atau nama-nama yang tidak jamak dan melanggar etika dan agama.

Harga buku-buku kurikulum 2013 ini pun jauh lebih murah dibandingkan buku-buku yang selama ini beredar.

Rata-rata per eksemplar hanya Rp 7.300 hingga Rp 24.000 sudah termasuk ongkos kirim.

"Bandingkan dengan buku lain yang setebal ini. Mungkin harganya sekitar Rp 100.000, tapi ini cuma Rp 24.000 per eksemplar," kata Nuh sambil menunjukkan buku Matematika untuk SMP.
 
Buku-buku kurikulum 2013 ini pun dibuat dengan memasukkan nilai-nilai keindonesiaan.

Seperti buku SD yang disampul depannya bergambar sama mulai kelas satu hingga enam. Terdiri dari enam anak sebagai tokoh di buku tersebut.

Enam tokoh ini menggambarkan keberagaman Indonesia, seperti Siti yang berkerudung menggambarkan umat muslim, Edo yang keriting menyimbolkan Papua, Lany yang China dan Udin Betawi.

"Ini kami maksudkan untuk mengenalkan keberagaman Indonesia sejak dini,"terang Nuh.

Dengan buku-buku ini, dipastikan siswa tidak menenteng banyak buku ketika bersekolah.

Pasalnya, sejumlah mata pelajaran terintegrasikan dalam satu buku. Seperti buku kelas 1 SD yang hanya ada empat buku selama satu semester.(Musahadah)

Editor: Willy Widianto
Sumber: Surya
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
1 KOMENTAR
2021401 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas