Jumat, 19 Desember 2014
Tribunnews.com

Tindakan FPI Dianggap Kepahlawanan ala Batman di Gotham City

Minggu, 14 Juli 2013 17:18 WIB

Tindakan FPI Dianggap Kepahlawanan ala Batman di Gotham City
Warta Kota/Alex Suban
Ratusan massa Front Pembela Islam (FPI) beunjukrasa di depan Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (10/6/2013). Aksi unjuk rasa, berkaitan dengan bentrokan yang dipicu sengketa lahan di Alam Sutera, Kampung Paku Alam, Serpong, Tangerang, Kamis (6/6/2013) lalu. (Warta Kota/Alex Suban) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Prapancha Research (PR) melakukan pantauan terhadap kicauan perihal FPI di Twitter. Berdasarkan pantauan antara 14 Januari 2013-14 Juli 2013 terdapat 310 ribu kicauan tentang FPI. Dari jumlah itu, 64 ribu kicauan terjadi pada 28 Juni, hari di mana juru bicara FPI, Munarman, menyiram sosiolog Thamrin Amal Tomagola, ungkap Rendy Mahesa, analis PR.

Sebagian besar kicauan terkait FPI bernada negatif dan merupakan reaksi terhadap tindakan Munarman. Dari 63 kicauan yang memperoleh kicau ulang (re-tweet) lebih dari 100 kali, hanya 2 kicauan yang memandang positif FPI, 7 kicauan netral, dan 54 sisanya negatif.

Kicauan yang paling banyak dikicaukan ulang adalah dari @gm_gm, “Ada yg lihat dlm acara debat TVOne Munarman, tokoh FPI, menyiram muka Prof. @tamrintomagola dgn air minum. Kebrutalan kok jadi takbiat!” Kicauan tersebut tercatat dikicaukan ulang sebanyak 729 kali.

Ada temuan menarik di berbagai forum dunia maya, media sosial maupun temuan kualitatif yang dilakukan tim PR, bahwa di sisi lain, kehadiran FPI melalui kegiatan razianya yang walau identik dengan kekerasan, dinilai berjasa, semacam “pahlawan kegelapan”. Pandangan ini muncul karena penegak hukum dianggap lemah dalam melindungi masyarakat dari ancaman seperti miras dan maksiat, sehingga dipercaya hanya lewat cara-cara yang ditempuh FPI kebaikan dapat benar-benar ditegakkan.

“FPI dipersepsikan ibarat Batman,yang menegakkan kebenaran di luar jalur-jalur hukum,” ujar Rendy Mahesa. Namun, pandangan tentang “kepahlawanan” tersebut relatif kecil dibandingkan sentimen negatif secara umum terhadap FPI.

Perhatian terhadap FPI spontan melejit pasca-insiden penyiraman. Jika sebelum penyiraman jumlah kicauan tentang FPI mencapai 1.153 kicauan per hari, maka setelah penyiraman mencapai 6.277 kicauan per hari. Antipati terhadap FPI dalam waktu singkat merambat luas di Twitter.

Meskipun terdapat kicauan yang membela FPI, tidak ada kicauan berpengaruh yang membenarkan tindakan Munarman atau cara-cara keras yang dipakai FPI. Kicauan @manjaddawajadaa yang memperoleh 141 kicau ulang, misalnya, menganggap sorotan terhadap FPI tak berimbang karena kegiatan kemanusiaan ormas ini justru tidak pernah dilihat. Berbagai kicauan pembelaan lainnya juga berpola sama, memandang FPI sebagai pihak yang dizalimi oleh media dan publik karena tak pernah diperhatikan aktivitas positifnya.

Dari pantauan ini, menurut Rendy, pandangan bahwa kekerasan FPI adalah cara wajib untuk menegakkan kebaikan tidak menemukan tempat di antara khalayak Twitter. Namun ketika FPI membuka posko banjir atau mengajukan gugatan keppres miras ke MA, kicauan positif membela atau memuji FPI bermunculan. “Artinya, ada ekspektasi publik agar FPI beralih menempuh jalur-jalur legal dalam mencapai tujuannya,” pungkas Rendy.

Tercatat sentimen positif terhadap FPI mencuat pada 20 Januari 2013, ketika ormas ini membuka posko banjir. Hanya saja, sentimen positif ini segera tergulung insiden penyiraman oleh Munarman. Informasi dikabulkannya gugatan FPI terhadap keprres miras pada 4 Juli 2013, yang sedikit-banyak menuai tanggapan positif, juga langsung tertutupi oleh informasi sweeping menjelang Ramadan yang dilakukan ormas ini.

“Bila hendak merebut hati publik di era demokrasi seperti ini, kekerasan bukanlah jawabannya,” tegas Rendy.

Penulis: Bahri Kurniawan
Editor: Widiyabuana Slay

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas