• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 31 Oktober 2014
Tribunnews.com

SBY Dua Hari Tulis Pidato untuk 16 Agustus

Senin, 12 Agustus 2013 19:58 WIB
SBY Dua Hari Tulis Pidato untuk 16 Agustus
Istimewa
Presiden SBY berdoa saat tim Indonesia bertanding dalam Kejuaraan Dunia Bultangkis 2013 di Guangzhou, Cina. 

TRIBUNNEWS.COM, BOGOR - Usai Lebaran, wajah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terlihat lebih berseri-seri ketimbang hari biasanya.

Usai menerima Perdana Menteri Kepulauan Solomon Gordon Darcy Lilo di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (12/8/2013) sore, SBY lebih dulu menyapa para wartawan.

"Apa kabar?" Tanya SBY kepada wartawan yang berkerumun depan Istana Bogor.

"Baik, Pak," jawab wartawan.

Tak lama, SBY melanjutkan basa-basinya.

"Kita tidak sahur lagi ya?" kata SBY disambut tawa wartawan.

SBY kemudian mengatakan, dalam dua hari terakhir dirinya sibuk menulis pidato kenegaraan tentang nota keuangan dan RAPBN 2014, yang akan dibacakan di sidang paripurna DPR tanggal 16 Agustus nanti.

"Saya persiapan dua hari menulis pidato," ungkap SBY.

Keceriaan SBY sore ini mungkin disebabkan prestasi  atlet bulu tangkis Indonesia yang merebut dua gelar di Kejuaraan Dunia Bulutangkis di Guangzhou, Cina, Minggu (11/8/2013) kemarin.

SBY yang menonton langsung pertandingan itu melalui layar televisi, langsung menelepon dua atlet nasional yang bertanding dan menyampaikan kebanggaan kepada mereka.

SBY bahkan secara khusus mengungkapkan kegembiraannya kepada wartawan sore tadi.

Sayang, keceriaan SBY sedikit ternodai dengan matinya mikrofon dan alat pengeras suara yang ia pakai sore tadi, untuk berbicara kepada wartawan.

Mengenai susunan pidato yang akan disampaikan nanti, beberapa hari terkahir terus disiapkan oleh SBY, termasuk dengan memanggil sejumlah menteri ke kediamannya di Cikeas dan Cipanas.

Wakil Ketua Komisi XI DPR Harry Azhar Azis berpendapat, pidato kenegaraan Presiden SBY tentang nota keuangan dan RAPBN 2014 yang akan dibacakan di Sidang Paripurna DPR tanggal 16 Agustus, adalah kesempatan terakhir bagi SBY untuk membuktikan janji-janji kampanyenya pada 2009.

"Salah satu yang terpenting adalah pertumbuhan ekonomi harus mencapai tujuh persen di tahun 2014. Dalam pembicaraan pendahuluan tentang pokok-pokok kebijakan fiskal tahun 2014, hal itu tidak tergambarkan," tutur Harry Azhar kepada Tribunnews.com, Senin (12/8/2013).

Karena itu, lanjutnya, keputusan akhir soal APBN 2014 ada di tangan presiden, maka usul dari bawahannya yang relatif bersifat pesimistis, harus dicambuk presiden.

"SBY harus membuktikan janjinya bahwa pertumbuhan ekonomi 2014 harus tercapai minimal tujuh persen. Walau pertumbuhan ekonomi di APBN-P 2013 hanya dipatok 6,3 persen. Janji adalah janji yang harus dipenuhi. Karena bila tidak, ini bisa dianggap sebagai suatu kegagalan," papar Harry Azhar.

Politisi Golkar menambahkan, harus dibuat indikator bahwa pertumbuhan ekonomi berhubungan dengan indikator kesejahteraan rakyat, agar bisa dikatakan pertumbuhan ekonomi berkualitas.

"Presiden harus menegaskan dalam pidatonya nanti, tentang indikator kesejahteraan rakyat yang harus dicapai di 2014, seperti angka kemiskinan yang terus menurun, angka pengangguran yang juga menurun, kesenjangan pendapatan yang semakin membaik, serta indeks pembangunan manusia yang juga membaik di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota-kota di Indonesia," beber Harry.

Menurutnya, ini kesempatan terakhir SBY untuk merumuskan dan melaksanakan janjinya, agar dikenang dalam sejarah Indonesia. Sebab, pada Oktober 2014, Indonesia sudah berganti presiden yang baru hasil Pemilu 2014.

"Janji yang ditepati akan dikenang sepanjang masa!" Tegas Harry. (*)

Penulis: Hasanudin Aco
Editor: Yaspen Martinus
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas