• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 31 Juli 2014
Tribunnews.com

Wasekjen PDIP: Duet Mega-Jokowi Memungkinkan

Senin, 26 Agustus 2013 12:39 WIB
Wasekjen PDIP: Duet Mega-Jokowi Memungkinkan
TRIBUNNEWS.COM
Megawati Soekarnoputri dan Jokowi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Survei Kompas menunjukkan elektabilitas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) meningkat signifikan.

Survei yang dilakukan kepada 1.400 responden, menempatkan Jokowi di urutan pertama dengan 17 persen, saat survei digelar pada 26 November-11 Desember 2012, dan naik menjadi 32,5 persen pada survei 30 Mei-14 Juni 2013.

Sang tokoh fenomenal mengalahkan sejumlah tokoh politik lain yang lebih dulu memproklamirkan diri sebagai capres.

Bahkan, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang membawa Jokowi ke kancah politik nasional melalui pencalonan Gubernur DKI Jakarta, hanya memeroleh 8 persen dan berada di urutan ketiga.

Hasil survei ini menambah panjang kemenangan Jokowi sebagai tokoh paling potensial sebagai capres, dari hasil beberapa lembaga survei sebelumnya.

Menyikapi hasil survei Harian Kompas, Wakil Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menunjukkan partainya punya modal calon pemimpin untuk Pilpres 2014.

"(Artinya) kami punya calon pemimpin, dan kaderisasi partai sudah berjalan," kata Hasto saat berbincang dengan Tribunnews.com, Senin (26/8/2013).

Hasil survei ini, lanjutnya, juga membuat PDIP makin percaya diri untuk menyiapkan dan merealisasikan sejumlah program dan kebijakan pemerintahan ke depan.

"Siapapun yang memimpin nanti, punya PR dari pemerintah SBY. Tidak hanya ekonomi, tapi juga kemandirian pangan, utang luar negeri, dan lainnya," imbuhnya.

Bagi PDIP, hasil survei Kompas kali ini menjadi berkah tersendiri, karena punya calon pemimpin bangsa yang mumpuni.

Meski begitu, Hasto menilai kepimpinan Ketua Umum partainya, Megawati Soekarnoputri menjadi presiden selama tiga tahun, tidak kalah baik dari kepemimpinan SBY selama sembilan tahun terakahir.

Hasto menyatakan, PDIP belum melansir calon presiden untuk Pilpres 2014, karena masih menunggu perolehan suara di pileg.

Ia mengatakan, Megawati bukannya menginginkan tetap maju menjadi capres, melainkan taat pada partai.

"Partai (PDIP) melihat kepemimpinan ke depan punya tantangan nasional, mulai dari ekonomi, ketahanan pangan, energi. Agar bagaimana kepemimpinan ke depan punya agenda yang jelas," paparnya.

Hasto menila, Megawati lebih berpikir bagaimana cara mewujudkan konsep kenegaraan dan kebangsaan, demi kepentingan bangsa dan negara.

Karena itu, ia melihat peluang menduetkan Megawati dan Jokowi di Pilpres 2014 sangat terbuka.

"Kalau misalnya Bu Mega bersama Pak Jokowi bersama anak bangsa lainnya, itu memungkinkan," cetus Hasto.

Apa yang fungsionaris PDIP lihat dari Megawati mengenai pencapresan ke depan?

"Kami lihat Bu Mega seperti pada peluncuran buku yang lalu. Beliau menyatakan perjuangan mewujudkan cita-cita Bung Karno belum selesai," jelasnya. (*)

Penulis: Abdul Qodir
Editor: Yaspen Martinus
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
12 KOMENTAR
2204692 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
  • rorowahyuni-Selasa, 27 Agustus 2013 Laporkan
    Duet megawati - Jokowi gak bakalan laku, masak barang rongsokan dicampur barang yang paten dah gitu rongsokannya ditaro paling atas.
  • Puguh Darmanto-Selasa, 27 Agustus 2013 Laporkan
    Kasihan....kalau ada wacana Mega digandengkan JOKOWI....., bukan malah banyak dukungan....tapi justru HANCUR........sebab anak muda sudah ngebet punya pemimpin muda yang kaya kreativitas kekinian.......seperti JOKOWI dan AHOK.....
  • Sumpeno-Selasa, 27 Agustus 2013 Laporkan
    Elektabilitas jokowi bakalan rontok jika di pasangkan dgn bu mega.
  • Riansyah Putra-Senin, 26 Agustus 2013 Laporkan
    Kalo mega jadi presiden lagi... pasti ambrol negara ne...
  • gagah tuah-Senin, 26 Agustus 2013 Laporkan
    hmm.. mungkin perlu telaah lebih baik lagi soal kepemimpinan negeri ini, jokowi bagus tapi tetep dia pemimpin lokal yang masi awan dengan hubungan internasional, dia butuh pasangan yang memahami hubungan internasional,
  • diah palupi-Senin, 26 Agustus 2013 Laporkan
    preeett hueeekk....siapa yg diinginkan kok siapa yg mau maju...????
  • Abednego-Senin, 26 Agustus 2013 Laporkan
    Hendaknya para senior di PDIP lebih realistis melihat dinamika yg timbul dimasyarakat...jangan ngotot dan fanatik mesti mengikuti persepsi internal partai dengan urutan senioritas, PDIP tidak akan mendapat simpati dari rakyat pemilih.
  • arintadin-Senin, 26 Agustus 2013 Laporkan
    ya Memungkinkan harus Menjadi Mungkin Jangan Hanya Di Hayalan Saja
  • wanda-Senin, 26 Agustus 2013 Laporkan
    wah kalau mega jadi presiden ane gak mau milih (tidak setuju) tapi kalau jokowi yg jadi presiden baru ane milih.seharusnya jokowi berpasangan dgn yang lain. bu mega mantau/mengawasi kader partainya aja biar nggak ada yg korup.
  • Mario Cap Jemoo-Senin, 26 Agustus 2013 Laporkan
    PDIP mbok mega lagi parah wak kata orang melayu. Mundur mbok ini kunyuk2 di skitar mbok mega makin gila, tak berpijak kenyataan, masih takut Jokowi yg jujur kariernya melesat bak anak karena sikat Jokowi yg merakyat n cerdas,
  • supandi artha-Senin, 26 Agustus 2013 Laporkan
    kalau masih ada yg namanya "megawati" haram buat saya memilihnya, kalau "jokowi" bolehlah,"megawati" itu pendendam, angkuh dan bodoh, (lulusan SMA) kuliat sampai tingkat 3,
  • gaspar kopong kelen-Senin, 26 Agustus 2013 Laporkan
    dari hasil survei Jokowi menempati posisi teratas untuk calon presiden 2014, karena itu, kalau PDIP mau calonkan Jokowi maka Jokowi harus calon RI I jangan RI 2, makanya Mba Mega jangan maju lagi, berikan kesempatan untuk Mas Jokowi untuk maju dari PDIP m
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas