Sabtu, 22 November 2014
Tribunnews.com

Kasus Korupsi Pembangunan Tower, Dirut Bank BJB Diperiksa Penyidik Kejagung

Rabu, 28 Agustus 2013 08:16 WIB

Kasus Korupsi Pembangunan Tower, Dirut Bank BJB Diperiksa Penyidik Kejagung
kompas.com
Bien Subiantoro 

TRIBUNNEWS.COM – Penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung) memeriksa Dirut Bank Jabar- Banten (BJB) Bien Subiantoro di Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jabar di Bandung, Selasa (27/8/2013). Bien diperiksa sebagai saksi pada kasus dugaan korupsi pembangunan BJB Tower di Jakarta.

Bien diperiksa di ruangan Pidana Khusus Kejati Jabar selama 10 jam mulai pukul 09.00- 19.00. Selain Bien, kemarin penyidik juga memeriksa mantan Dirut BJB yang kini menjadi komisaris bank itu Agus Ruswendi. Berbeda dengan Bien, Agus hanya diperiksa selama satu jam dari pukul 13.30-14.30.

"Saya diperiksa sebagai saksi pada kasus dugaan korupsi pembangunan BJB Tower. Kapasitas saya sekarang ini sebagai komisaris," kata Agus, usai pemeriksaan kemarin.

Menurut Agus, rencana pembangunan BJB Tower sudah digodok sejak dirinya menjabat sebagai dirut. Namun eksekusi pembangunan BJB Tower kata Agus, dilakukan dimasa kepemimpinan Bien Subiantoro.

Usai pemeriksaan, Bien tidak banyak berkomentar. Dirut BJB itu hanya mengatakan bahwa Ini adalah kali kedua ia diperiksa sebagai saksi pada kasus dugaan korupsi pembangunan BJB Tower. "Untuk materi tanya penyidik," kata Bien saat disinggung tentang pertanyaan yang diajukan oleh penyidik Kejagung.

Para penyidik sendiri kemarin enggan mengungkapkan materi pemeriksaan terhadap Dirut BJB itu. Salah seorang penyidik bahkan menyarankan kepada wartawan agar menanyakan kasus ini kepada Kapuspenkum Kejaksaan Agung.

Kepala Kejati Jabar, Soemarno, mengatakan pihaknya hanya menyediakan tempat untuk pemeriksaan saja. Mengenai kewenangan kasus ini kata Soemarno, sepenuhnya ada di tangan Kejagung.

"Kasus itu kewenangan Kejagung. Kebetulan kami hanya menyediakan tempat untuk pemeriksaan saja, jadi kami tidak berwenang untuk berkomentar terhadap kasus itu," kata Soemarno.

Pada kasus ini penyidik Kejagung telah menetapkan dua orang tersangka. Keduanya adalah Kepala Divisi Umum BJB Wawan Indrawan dan Direktur PT Comradindo Lintasnusa Perkasa, Tri Wiyasa.

Kasus ini bermula ketika BJB hendak membeli gedung sebagai kantor cabang khusus di Jakarta pada 2006. Anggaran yang disetujui Bank Indonesia awalnya Rp 200 miliar.

Belakangan, BJB setuju membeli 14 dari 27 lantai gedung bangunan yang akan diberi nama gedung T-Tower dan rencananya dibangun di Jalan Gatot Subroto, Kaveling 93, Jakarta Selatan.

Tim pembebasan lahan yang dibentuk BJB pernah bernegosiasi dengan PT Comradindo Lintasnusa Perkasa, perusahaan informasi dan teknologi yang membuka penawaran pembelian gedung tersebut. BJB pun bertransaksi dengan PT Comradindo senilai Rp 543 miliar.

Uang muka dikucurkan Rp 217 miliar. Sisanya Rp 326 miliar diangsur selama setahun. Belakangan, pembelian gedung ini bermasalah. Pembangunan gedung belum terealisasi. Tanah yang hendak dipakai diduga milik perusahaan lain. Kejaksaan Agung pun menduga ada korupsi dalam pembelian gedung tersebut. (Tribun Jabar/san)

Editor: Dodi Esvandi
Sumber: Tribun Jabar

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas