• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 24 Oktober 2014
Tribunnews.com

Guru Besar UI: PM Australia yang Baru Lecehkan Indonesia

Senin, 9 September 2013 00:10 WIB
Guru Besar UI: PM Australia yang Baru Lecehkan Indonesia
net
Guru Besar Universitas Indonesia yang juga ahli hukum, Profesor Hikmahanto Juwana SH LLM PhD.

Laporan Wartawan Tribunnews.com Reza Gunadha

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perdana Menteri terpilih Australia, Tony Abbott, dinilai bakal menjadi ancaman bagi stabilitas keamanan dan kehidupan sosial politik masyarakat Indonesia.

Pasalnya, melalui program penanggulangan aksi "penyelundupan manusia" yang kerap masuk ke Australia melalui Indonesia, pemimpin Koalisi Liberal-Nasional ini dinilai melecehkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penilaian tersebut, diutarakan oleh Guru Besar Universitas Indonesia yang juga ahli hukum, Profesor Hikmahanto Juwana SH LLM PhD.

"Dalam kampanyenya, Tony Abbott berjanji bakal menggelontorkan dana 420 Juta Dolar Australia untuk penanganan penyelundupan manusia. Tapi kalau didedah, programnya itu melecehkan kedaulatan Indonesia," kata Profesor Hikmahanto Juwana seperti dalam rilisnya yang diterima Redaksi Tribunnews.com, Minggu (8/9/2013).

Sebab dalam kampanyenya, Tony menjelaskan pemerintah Australia akan menggunakan uang itu untuk membeli kapal-kapal nelayan, memberi insentif uang kepada masyarakat, dan kepala desa yang memberi informasi, bahkan menempatkan polisi Australia di Indonesia.

"Abbott membuat program tersebut, seolah Indonesia bagian dari negara Australia yang tidak memiliki kedaulatan," tutur Hikmahanto.

Seharusnya, kata dia, Tony Abbott harus mengajak pemerintah Indonesia terlibat dalam pelaksanaan program penanganan penyelundupan manusia tersebut.

Karenanya, sambung Hikmahanto, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus segera memberikan respons terhadap rencana program Abbott tersebut.

"Bila ini (program Tony Abbott) terjadi dan tak direspons, sungguh disayangkan karena Presiden SBY di masa-masa akhir pemerintahannya akan mendapat label negatif," tandasnya.

Penulis: Reza Gunadha
6 KOMENTAR
2261722 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
  • Bodrex-Selasa, 1 Oktober 2013 Laporkan
    Tiba2 profesor2 doktor sekarang bermunculan dgn pernyataan2 politik. Kemarin Prof Dr Amien Rais, sekarang Prof Hikmahanto Juwana SH LLM PhD ! Apa kurang kerjaan di kampus atau pencitraan ? Apalagi main tuduh, hanya menurunkan martabat dunia akademisi sehingga patut dipertanyakan bagaimana mereka bisa jadi profesor !
  • Ale'eh Lekanu-Minggu, 15 September 2013 Laporkan
    Benar, para imigran gelap ke Aust, lebih byk datangnya melewati / dari Indonesia, wajar PM Austr kecewa kpd Indonesia, maka dianggap sbg tentara bayaran utk membaqwa imigran gelap,..............
  • Abank Opho'x-Rabu, 11 September 2013 Laporkan
    bukan melecehkan, tp lbh cocok membina pemerintah NKRI.
  • Deky Basuki-Selasa, 10 September 2013 Laporkan
    jujur sajalah wahai para penyelenggara negara ???
    Kamu semua mata duitan toh ? Polisi,jaksa,hakim,TNI,Menteri,Presiden,semuanya mata duitan. Mengkorupsi uang rakyat di APBN dan suka makan uang suap dari semua proyek dan kasus hukum.
    Tidak salah kalau Perd
  • desaku-Senin, 9 September 2013 Laporkan
    Instrospeksi aja laah, tanya diri kita bangsa ini, apakah punya ketahanan nasional? apalagi itu para nelayan miskin Di laut yg jauh Dr jangkauan pemgawasan, Wong pejabat terhormat aja ga ada ketahanan nasional,,padahal negara ini sampe susah2 medirikan le
  • ijen dhewe-Senin, 9 September 2013 Laporkan
    Sampun dangu Prof, presiden kita memang lambat! Terlalu prosedural, normatif.
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas