Senin, 22 Desember 2014
Tribunnews.com

Jawara Banten Desak Dugaan Korupsi Keluarga Dinasti Atut Dibongkar

Senin, 7 Oktober 2013 09:28 WIB

Jawara Banten Desak Dugaan Korupsi Keluarga Dinasti Atut Dibongkar
WARTAKOTA/Henry Lopulalan
Pengusaha Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (3/10/2013). Wawan yang telah ditetapkan KPK sebagai tersangka bersama Ketua MK Akil Mochtar, diduga terlibat dalam suap pengurusan sengketa pilkada Banten. (WARTAKOTA/ Henry Lopulalan) 

Tribunnews.com, JAKARTA - - Jawara (Jaringan Warga untuk Reformasi) Banten yang terdiri dari gabungan berbagai LSM yang ada di Banten dan Jakarta seperti Masyarakat Transparansi (Mata) Banten, Koalisi Guru Banten, Lingkar Madani, Indonesian Corruption Warch (ICW),  dan Aliansi Lembaga Independen Peduli Publik (Alipp) mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk membongkar dan mengusut tuntas dugaan korupsi yang dilakukan keluarga dinasti politik Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah.


"Penangkapan Wawan (Tubagus Chaery Wardana) sebagai pembuka dari berbagai dugaan tindak pidana korupsi di Banten yang selama ini tidak terungkap. Wawan orang paling berpengaruh dan membagi banyak proyek-proyek di Banten," kata Uday Suhada, salah seorang penggagas Jawara Banten yang juga aktivis Alipp, dalam keterangannya kepada wartawan di BSD City, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (6/10/2013), sore.

Wawan yang dimaksud Uday adalah panggilan akrab untuk Tubagus Chaeri Wardana yang  merupakan adik kandung Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah yang ditangkap KPK karena diduga terkait suap sengketa Pemilukada Lebak, Banten, 2013.

"Pintu KPK jangan sampai terputus pada persoalan dugaan suap Wawan.  Kasus dugaan korupsi lainnya masih harus dibongkar oleh KPK," kata Uday.


Menurut dia sebelum Pemilukada Banten yang lalu pihaknya sudah menemukan banyak dugaan kasus korupsi besar di Banteng yang digelontorkan oleh Ratu Atut menjelang Pilkada.

"Belum  lagi proyek-proyek  lain yang melibatkan keluarga Atut. Kami bukan tidak tahu sepak terjang saudara Wawan tapi kami tidak kuasa selama ini maka KPK jangan ragu selesaikan kasus korupsi yang jauh lebih besar," kata Uday.

Dia menyebut beberapa kasus lainnya seperti RS Balaraja di SP3-kan oleh Kejati Banten. Kemudian pembangunan kompleks pemerintahan provinsi Banten mulai dari penyediaan lahan sampai pembangunan.
"Pembangunan RS Banten lebih Rp 100 miliar uang dipakai tapi belum selesai juga ini semua harus diusut lagi," kata Uday. (aco)

Penulis: Hasanudin Aco
Editor: Gusti Sawabi
Sumber: Tribun Jakarta

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas