Minggu, 21 Desember 2014
Tribunnews.com

Sindikat Peredaran Gelap Senjata Api Datangkan Barang dari Luar Negeri

Selasa, 7 Januari 2014 19:49 WIB

Sindikat Peredaran Gelap Senjata Api Datangkan Barang dari Luar Negeri
Tribunnews.com/Adi Suhendi
Kepolisian menunjukan barang bukti dan empat pelaku peredaran gelap senjata api 

Laporan Wartawan Tribunnews.com  Adi Suhendi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Kepolisian berhasil membongkar sindikat peredaran gelap senjata api yang melibatkan paman dari seorang anggota kelompok teroris Ciputat Anton alias Septi yang ditangkap di Banyumas, Jawa Tengah pada 31 Desember 2013 lalu. Diduga kuat senjata api pabrikan tersebut didatangkan dari luar negeri.

Demikian diungkapkan Kepala Sub Direktorat I Keamanan Negara dan Separatisme Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Kombes Pol Mashudi di Mabes Polri, Jakarta Selatan.

"Dari beberapa jenis memang kita melihat produknya kemungkinan dari luar. Karena ini dari tangan ke sekian, bukan pemilik pertama yang mengorder atau mendapatkan senjata api itu. Bagaimana mereka memasukan ke Indonesia ini yang masih kita kembangkan," ungkap Mashudi.

Dari empat tersangka yang berhasil diamankan, sindikat ini sudah berjalan lama dalam bisnis jual beli senjata api. Dari pengakuan seorang tersangkanya berinisial ES serta pemeriksaan dokumen, ES mengaku pernah membeli sebanyak empat pucuk senjata api berbagai jenis dar tiga orang.

"Ia telah menjual tujuh pucuk senjata api kepada tujuh orang di beberapa wilayah di Indonesia," ucap Mashudi.

Sementara dari tersangka TH kepolisian mendapatkan keterangan bahwa dirinya sudah membeli lima pucuk senjata api berbagai jenis dari empay orang. "Dia sudah menjual enam pucuk senjata api berbagai jenis kepada lima orang di berbagai wilayah Indonesia," ucapnya.

Dalam kasus ini kepolisian sudah menetapkan empat orang tersangka masing-masing berinisial ES, TH, DA, dan SR (Sadullah Rozak) adapun barang bukti yang disita cukup banyak diantaranya dari tersangka ES, satu pucuk senjata api jenis CZ 45, satu pucuk senjata api jenis revolver, tiga bundel bukti pengiriman paket barang, tiga ATM , satu buku tabungan BCA, satu air gun merk Baikal Makarao, satu air gun makarov.

Kemudian dari tersangka TH diantaranya satu pucuk air gun Baikal Makarov berikut dua magazen dan proyektil gotri sebanyak 918 butir, satu buah borgol, satu pucuk air gun jericho, lima tabung CO2, resi pengiriman barang, empat buku tabungan, dua handphone dan satu laptop.

Dari tersangka DA kepolisian menyita satu buah cros bow (panah mekanik), 12 anak panah pendek, 34 anak panah panjang, empat kotak gotri 4,5 milimeter merk colombia, dua kotak gotri 6 milimeter, satu kaleng gotri 6 milimeter, satu plastik fotri 6 milimeter, tiga kartu kredit, dan satu buah strun gun.

Sementara dari tersangka SR kepolisian menemukan atu pucuk pen gun, dua air gun merk Baikal Makarro, satu buah samurai, satu pisau kukri buatan USA, satu set pisau lempar, satu bundel bukti penerimaan dan pengiriman senjta, 44 butir peluri 22 mili meter, 62 butir peluru 3,2 mili meter, 1 850 butir peluru air gun, 45 tabung gas Co2, 42 kilogram pupuk Urea, buku petunjuk pembuatan bom, 24 buku tentang jihad.

Kepada para tersangka kepolisian menjeratnya dengan pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman sampai hukuman mati, penjara seumur hidup, dan hukuman setinggi-tingginya 20 tahun ini untuk kepemilikan senpi maupun senjata tajam yang tidak dilengkapi dengan dokumen yang sah.

Penulis: Adi Suhendi
Editor: Hendra Gunawan

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas