Jokowi JK

Sekali Lagi tentang Prestasi Jusuf Kalla

Lima tahun ia sesungguhnya sudah menjauh dari ingar-bingar politik dan pemerintahan. Ia mengabdikan diri untuk kemanusiaan dengan memimpin PMI

Sekali Lagi tentang Prestasi Jusuf Kalla
Tribunnews.com/Wahyu Aji
Jusuf Kalla 

Ia -- sebagaimana Muhammad Hatta -- berlatar belakang pendidikan ekonomi, berasal dari luar Jawa, dengan latar belakang Islam yang kuat.

Jakarta - Jusuf Kalla adalah mantan menteri dan Wakil Presiden RI yang namanya tetap terawetkan oleh jejak, oleh tuturan, dan kesaksian-kesaksian. Ia -- sebagaimana Muhammad Hatta -- berlatar belakang pendidikan ekonomi, berasal dari luar Jawa, dengan latar belakang Islam yang kuat.

Lima tahun ia sesungguhnya sudah menjauh dari ingar-bingar politik dan pemerintahan. Ia mengabdikan diri untuk kemanusiaan dengan memimpin Palang Merah Indonesia dan juga organisasi Dewan Masjid Indonesia,. Tapi sorotan kamera publik tetap saja tak beralih darinya. Indonesia masih membutuhkan JK. Ia dikenal karena kemampuannya menemukan jalan keluar aneka persoalan rakyat, menjadi juru damai pertikaian di pelbagai pelosok negeri, dan keteguhannya untuk menjaga harga diri dan martabat bangsa. 

Kini, Calon Presiden Joko Widodo menggandeng Jusuf Kalla untuk menjadi Wakil Presiden mendampinginya.

Beberapa jejak tangan dingin Jusuf Kalla yang tak lekang dalam ingatan publik dan sejarah bangsa ini di antaranya:

- Konflik Ambon. Sebagai menteri, ia menggiring para tokoh dan pentolan dua pihak yang bertikai di Ambon dan kawasan Maluku lainnya untuk berdamai dan menyudahi pertikaian berdarah. Konflik Ambon berlangsung selama tiga tahun sejak 1999 dengan korban jiwa sedikitnya 10.000 orang, ratusan ribu pengungsi dan kerugian harta benda yang tak terhitung. Konflik bernuansa SARA ini berakhir pada bulan Februari 2002 dalam sebuah pertemuan damai di Malino, Sulawesi Selatan.

- Konflik Poso. Pertikaian di Poso, Sulawesi Tengah ini berlangsung tahun 2000 dengan akibat yang tak kalah ganasnya. Diperkirakan 1.000 orang tewas, lebih 10.000  rumah musnah terbakar dan dirusak, dan puluhan ribu pengungsi akibat pertikaian yang bernuansa SARA di daerah ini. Di bulan Desember 2001, Jusuf Kalla berhasil memboyong tokoh komunitas Islam-Kristen Poso untuk berunding di Malino. Konflik berakhir damai.

- Konflik Aceh. Selama hampir 30 tahun, Aceh tak pernah sepi dari pertempuran. Selama itu, sedikitnya telah jatuh 15.000 korban jiwa – pada umumnya rakyat sipil. Rakyat Aceh tak pernah punya waktu untuk menata masa depan di luar ikhtiar menyelamatkan nyawa sendiri. Lewat serangkaian pertemuan yang dirintis dan dipantau langsung oleh Jusuf Kalla, pada 15 Agustus 2005, pemerintah Indonesia dan pimpinan Gerakan Aceh Merdeka sepakat berdamai dalam sebuah perjanjian perdamaian di Helsinki, Finlandia.

- Program Pembangkit Listrik 10.000 MegaWatt. Jusuf Kalla menggagas program penambahan pasokan tenaga listrik hingga 10.000 MW untuk mengatasi ancaman kekurangan listrik di negara ini. Gagasan ini sudah dicanangkan pada 2007 dan seharusnya tuntas pada 2010. Saat ini penambahan listrik baru sekitar 7.000 MW.

- Program 1.000 Menara. Pada tahun 2007, Jusuf Kalla menggagas pembangunan seribu bangunan apartemen untuk warga berpenghasilan rendah yang tinggal di daerah kumuh dan pinggir kali di kota besar seperti Jakarta. Jusuf Kalla ingin mereka tinggal di rumah yang layak. Tapi program ini macet setelah dia tak menjabat lagi sebagai wakil presiden.

- Palang Merah Indonesia. Sebagai Ketua Palang Merah Indonesia, Jusuf Kalla merombak secara besar-besaran kinerja para relawan penanggulangan bencana. Peralatan modern berupa helikopter, bus donor darah, mobil tahan api untuk menembus kawasan bencana pasca letusan gunung berapi ia, juga rumah sakit dengan fasilitas perawatan yang lengkap. Di bawah kepemimpinan Jusuf Kalla, relawan PMI selalu hadir paling cepat dengan peralatan lengkap di daerah bencana di seluruh pelosok negeri.

- Dewan Masjid Indonesia. Sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia, Jusuf Kalla menggagas program penataan akustik masjid sejak September 2013. DMI menggandeng perusahaan elektronik yang berkompeten PT TOA Indonesia dan PT Panasonic. Pada tahap awal, tim DMI melakukan perbaikan akustik di 300 masjid di seluruh Indonesia dan akan diteruskan ke seluruh masjid besar di negeri ini. DMI juga mengembalikan fungsi masjid bukan semata-mata untuk tempat beribadah, tapi juga sebagai pusat kegiatan ekonomi dan sosial yang modern. Masjid-masjid akan dilengkapi dengan klinik kesehatan, sekolah dan lain-lain. (skj) (Advertorial)

Editor: Advertorial
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved