Indonesia Mengajar Targetkan Raih 3100 Donatur Publik

Untuk itu, Indonesia Mengajar kembali meluncurkan program Donasi Publik

Indonesia Mengajar Targetkan Raih 3100 Donatur Publik
TRIBUNNEWS.COM/WIDIYABUANA ANDARIAS
Pelaksaaan upacara bendera di kegiatan Festival Gerakan Indonesia Mengajar yang berlangsung di Ecovention Hall, Ancol, Jakarta Sabtu (5/10/2013). Upacara bendera ini diikuti dengan pemutaran video pembacaan Pancasila, UUD 1945, pembacaan doa, dan menyanyi bersama dari seluruh pelajar SD dari Sabang Sampai Merauke. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia Mengajar ingin menjadikan iuran dari masyarakat sebagai pilar penopang penting bagi pendanaan gerakan sosial. Untuk itu, Indonesia Mengajar kembali meluncurkan program Donasi Publik dengan penyempurnaan fitur pembayaran.

Direktur Eksekutif Indonesia Mengajar, Hikmat Hardono menargetkan di akhir tahun ini iuran dari publik bisa menutupi sepertiga kebutuhan organisasi. Target pendanaan dari masyarkat itu ingin dicapai dengan menggaet 3.100 donator publik, dengan perincian sebanyak 3.000 donatur individu dan 100 donatur institusi yang rutin berdonasi setiap bulan.

Indonesia Mengajar ingin mengimbangi porsi dukungan dari korporasi besar dalam bentuk dana Corporate Social Responsibility (CSR) yang selama ini menopang sebagian besar kebutuhan operasional. Di sisi lain, Indonesia Mengajar juga tidak ingin seperti organisasi masyarakat lain yang tergantung kepada donor asing.

"Dengan Donasi Publik, Indonesia Mengajar ingin dimiliki oleh masyarakat secara lebih luas," katanya.
Dia mengutip kata-kata Mahatma Gandhi yang menyatakan, sebuah gerakan publik pada hakikatnya adalah institusi yang diselenggarakan atas dasar dukungan, persetujuan, dan pendanaan dari masyarakat.

"Ketika sebuah institusi gagal untuk mendapatkan dukungan (pendanaan) publik, maka institusi tersebut kehilangan haknya untuk tetap berdiri," demikian bunyi pemikiran Bapak Bangsa India itu seperti tertulis di otobiografinya, seratus tahun lalu.

Hikmat memaparkan, pengelolaan pendanaan di kalangan masyarakat sipil cukup menantang. Hasil survei PIRAC di laporan yang sama menemukan fakta bahwa tingkat kedermawanan (rate of giving) masyarakat sangat tinggi, yakni 99,6%. Artinya hampir seluruh masyarakat yang menjadi responden memberi sumbangan dalam setahun terakhir.

Namun baru sekitar 10% sumbangan yang berhasil digalang dari potensi sebesar Rp 12,3 triliun per tahun. Potensi selalu mengundang inovasi. Indonesia Mengajar sebagai salah satu organ masyarakat sipil, sejak Agustus 2012 mengembangkan skema Donasi Publik menggunakan kartu kredit.

"Awalnya tertatih-tatih namun tetap tumbuh," ucap Hikmat. Di awalnya jumlah donaturnya hanya 200-an orang dan sekarang sudah hampir 500 orang. Pada pembukaan kembali Donasi Publik di tahun ini, sistemnya dikembangkan secara digital dan dibangun rapi dengan fitur rekening virtual terintegrasi.

Berbeda dari kebanyakan gerakan sosial lain yang menghimpun dana secara keroyokan (crowdfunding), Indonesia Mengajar mengembangkan sistem Donasi Publik yang dapat merunut dan mencatat donasi setiap orang. Hikmat mengatakan, ini bagian dari prinsip organisasi masyarakat sipil yaitu setiap individunya berkontribusi secara sadar dan bertanggung jawab.

Akumulasi kontribusi sadar ini menjadi modal penting bagi keberlangsungan organisasi tersebut. Sekarang sistem donasi IM mampu memfasilitasi sumbangan dari berbagai model transaksi, dari kartu kredit sampai transfer ke rekening donasi unik untuk setiap donatur. Dan setiap donatur atau relawan memiliki akun personal yang di dalamnya tercatat donasinya sejak awal sampai sekarang.

Halaman
12
Penulis: Domu D. Ambarita
Editor: Willy Widianto
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help