Pesawat AirAsia Jatuh

Inilah Pertimbangan Menarik Seluruh Armada TNI dari Evakuasi AirAsia QZ8501

Ini pertimbangan menarik seluruh armada TNI dari pencarian badan pesawat dan evakuasi korban-korban AirAsia QZ8501.

Inilah Pertimbangan Menarik Seluruh Armada TNI dari Evakuasi AirAsia QZ8501
AFP/ Juni Krisnanto
Petugas Basarnas mengangkat peti berisi salah satu dari tiga jasad penumpang AirAsia QZ8501 yang dikirim ke Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (17/1/2015). 

TRIBUNNEWS.COM - Memasuki hari ke-31 operasi Search and Rescue pesawat AirAsia QZ 8501, seluruh kekuatan TNI ditarik dari lokasi pencarian di sekitar perairan Kalimantan, Selasa (27/1). Tidak ditemukannya jenazah dalam dua hari ini dan tidak berhasilnya upaya pengangkatan badan utama pesawat menjadi pertimbangan.

Evaluasi dan konsolidasi pimpinan TNI dan Badan SAR Nasional (Basarnas) dilakukan untuk menentukan kelanjutan operasi evakuasi.

Panglima Armada TNI Wilayah Barat Laksamana Muda TNI Widodo mengemukakan itu di Posko Utama Evakuasi AirAsia, Basis Operasional, Pangkalan Udara TNI Angkatan Udara Iskandar, Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Selasa (27/1).

Ia menyebutkan, berdasarkan koordinasi dengan Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan manajemen AirAsia, fokusnya adalah mencari jenazah. Dua hari ini tim ternyata tidak menemukan jenazah. ”Panglima TNI meminta kami mengonsolidasikan seluruh kekuatan TNI yang ada di sini untuk ditarik ke home base masing- masing, sambil menunggu perkembangan,” kata Widodo.

Ia melanjutkan, menurut Ketua KNKT Marsekal Muda (Purn) Tatang Kurniadi, badan pesawat yang tidak bisa diangkat tidak berpengaruh pada proses investigasi. ”Indikasi kedua, saat dua kali badan pesawat diangkat dan kemudian dua kali jatuh karena tali putus, tidak ada jenazah yang keluar,” katanya.

Namun, ujar Widodo, masih ada satu ruang atau lorong berukuran sekitar 6 meter yang belum bisa dimasuki penyelam karena berbahaya.

Selain itu, 19 penyelam dari total 81 penyelam gabungan TNI AL mengalami dekompresi, yaitu keracunan gas nitrogen dalam pembuluh darah karena mengalami kelebihan waktu selam. ”Kami harus memulangkan mereka ke Surabaya dan Jakarta untuk segera masuk ke Rumah Sakit Angkatan Laut,” katanya.

Semua armada TNI di laut, seperti KRI Banda Aceh, KRI Soputan, KRI Teluk Sibolga, dan KRI Yos Sudarso, lanjut Widodo, diperintahkan kembali ke Jakarta dan Surabaya. Dua helikopter Bell TNI AU pun sudah ditarik.
Rapuh

Akibat terlalu lama berada di dalam air, menurut Widodo, badan utama pesawat AirAsia QZ 8501 telah sangat rapuh untuk diangkat ke permukaan. Upaya pengangkatan badan utama pesawat yang berukuran sekitar 10 meter dengan berat kurang dari 10 ton itu pada Selasa pagi pun tidak membuahkan hasil.

”Statement dari Manajemen AirAsia, jika badan pesawat ada di dalam air selama 15 hari, sudah sangat rapuh. Itu terbukti dari dua kali pengangkatan, badan itu patah dan keropos,” ujarnya.

Kepada keluarga korban kecelakaan pesawat AirAsia, Widodo menyampaikan permohonan maaf. ”Kami mohon maaf sekali kepada keluarga besar korban. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencari korban yang masih ada di dasar laut. Namun, dua hari ini kami telah menyelam sejak pukul 05.30 hingga 11.30 dan tidak menemukan jenazah sama sekali,” katanya.

Direktur Operasional Basarnas Marsekal Pertama Suyadi Bambang Supriyadi mengatakan, pihaknya belum mengetahui kapan operasi SAR itu dihentikan. Keputusan ada pada pimpinan. ”Saat ini ada KN SAR Jakarta, KN SAR Pacitan, dan KN SAR Purworejo, juga satu helikopter Dauphin bersiaga,” kata Supriyadi.

Hingga kini, Tim SAR Terpadu baru menemukan 70 jenazah korban AirAsia yang terbang dari Surabaya ke Singapura, 28 Desember 2014. Pesawat Airbus beregister PK-AXC itu membawa 155 penumpang dan 7 kru. Selasa kemarin sekitar pukul 14.30, satu jenazah yang masih berada di RSUD Sultan Imanudin, Pangkalan Bun, diterbangkan ke Surabaya menggunakan pesawat komersial. (DKA)

Editor: Agung Budi Santoso
Sumber: KOMPAS
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved