Grace Natalie Perkenalkan Diri Sebagai Ketua Umum PSI

"Saya minoritas marjinal karena saya perempuan dan non muslim. Saya mayoritas karena saya anak muda," jelas Grace.

Grace Natalie Perkenalkan Diri Sebagai Ketua Umum PSI
Facebook
Grace Natalie memperkenalkan dirinya sebagai Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan presenter TVOne, Grace Natalie, hadir dalam acara Silaturahmi Tokoh Bangsa ke-7 yang diselenggarakan di Kantor PP Muhammadiyah Jakarta, Kamis (26/3/2015).

Dalam silaturahmi bertema "Problematika Bangsa dan Solusinya" itu, Grace memperkenalkan dirinya sebagai Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI),

"Perkenalkan saya Grace, Ketua Umum PSI. Saya perempuan, muda, non-Muslim dan Tionghoa. Kalau bukan di Muhammadiyah dan juga NU, tentu saya tidak bisa duduk bareng tokoh senior yang saya hormati ini. Mungkin saya akan ditempatkan di barisan paling belakang," ungkap Grace dalam keterangannya.

Dalam acara tersebut, hadir sejumlah tokoh seperti Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin, Ketua Komisi Yudisial Suparman, Mahfud MD, Jimly Asshiddiqie, Franz Magnis Suseno, Fuad Bawazier, Bambang Sudibyo, Akbar Tandjung, dan Fadel Muhammad.

"Jika bukan karena ajaran Muhammadiyah, tentu Sekjen PSI Raja Juli Antoni, kader Muhammadiyah tulen, tidak akan merelakan Kursi Ketua Umum PSI kepada seorang perempuan seperti saya," sambung Grace.

Di hadapan para tokoh tersebut, Grace berbicara mewakili dua identitas. Yaitu, sebagai minoritas dan sebagai mayoritas.

"Saya minoritas marjinal karena saya perempuan dan non muslim. Saya mayoritas karena saya anak muda," jelasnya.

Sebagai minoritas, Grace mengaku harus berterimakasih kepada organisasi seperti Muhammadiyah.

"Karena Muhammadiyahlah, saya dan kaum saya sampai pada titik hari ini. Karena kemanapun saya pergi, Muhammadiyah selalu memberikan rasa aman untuk saya di rumah Indonesia yang kita cintai bersama ini," ungkapnya.

Sementara sebagai mayoritas, Grace menyampaikan bahwa dirinya bersama sejumlah tokoh-tokoh muda lainnya sedang mendirikan sebuah partai politik baru.

"Bukan untuk memberontak atau menegasikan peran para tokoh senior bangsa. Tapi lebih karena kesadaran bahwa anak muda harus belajar mandiri dan menempa nasib mereka sendiri," tandasnya.

Penulis: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved