Advertorial

Donasi Konsumen Alfamart Renovasi Sekolah di Pelosok Desa

Program Sekolah Impian dibangun dari donasi konsumen yang dihimpun selama periode 1-30 September 2014. Selama periode tersebut, donasi yang terkumpul

Donasi Konsumen Alfamart Renovasi Sekolah di Pelosok Desa
Alfamart
Donasi Konsumen Alfamart Renovasi Sekolah di Pelosok Desa 

Serang - PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (pengelola Alfamart Alfamidi) meresmikan pembangunan TK Cahaya Insani, Selasa (14/4/2015).

Peresmian TK yang masuk dalam program Sekolah Impian ini berjalan setelah lima bulan proses renovasi berjalan sejak pertengahan November 2014.

GM Corporate Communication Alfamart Nur Rachman, mengatakan, sekolah ini sebelumnya sudah ada dan kami tinggal merenovasi serta melengkapi fasilitas belajar dan bermain untuk murid-murid.

"Bangunannya kami buat permanen, lebih layak, dan sesuai standar pendidikan di Indonesia," katanya, di sela peresmian.

Program Sekolah Impian dibangun dari donasi konsumen yang dihimpun selama periode 1-30 September 2014. Selama periode tersebut, donasi yang terkumpul Rp 1,99 miliar.

Sebagian dari donasi ini di antaranya digunakan untuk merenovasi sekolah rusak melalui program Sekolah Impian. Penyaluran donasinya bekerja sama dengan Happy Hearts Fund Indonesia (HHFI).

TK Cahaya Insani yang memiliki luas sekitar 100 meter persegi ditambah luas taman dan sarana bermain 60 meter persegi ini merupakan sekolah pertama yang memperoleh bantuan ini. Selain di Serang, ada dua TK lainnya yakni di Bandung dan Manado yang mendapatkan bantuan serupa.

CEO Happy Heart Foundation Indonesia, Sylvia Beiwinkler menambahkan, kondisi bangunan TK Cahaya Insani sebetulnya tidak layak untuk digunakan.

“Bangunan terbuat dari bambu, kalau hujan airnya merembes dan tanah di sekitarnya basah. Kondisi seperti ini tentu membuat anak-anak tidak nyaman ketika belajar,” ucapnya.

Titin Suptini, Kepala Sekolah TK Cahaya Insani menyambut gembira program ini. Ia mengaku sering khawatir dan ketakutan jika bangunan sekolah ambruk pada saat kegiatan belajar berlangsung.

“Saya sering takut jika tiba-tiba bangunan roboh dan menimpa anak-anak. Saya dan guru-guru di sini sangat mengharapkan bantuan untuk merenovasi. Tapi kami berpikir siapa yang bisa bantu? Kami bersyukur ketika ada bantuan dari konsumen Alfamart,” ujarnya.

Menurut Titin, kendala renovasi selama ini karena keterbatasan biaya operasional sekolah. “Awalnya ada lebih dari 30 murid, tapi sekarang hanya ada 20 murid. Ini karena para orangtua murid lama khawatir keselamatan anaknya saat belajar," imbuhnya.

Untuk membayar biaya pendidikan pun para orangtua murid kesulitan sebab mayoritas pekerjaan mereka petani, ada juga yang menjadi supir.
 (adv)

Editor: Advertorial
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved