Sikap PMKRI Tolak Undangan Diskusi Wantimpres Diapresiasi

Ketidakhadiran itu dinilai sebagai sikap kritis dan cerminan independensi organisasi ekstra kampus (Kelompok Cipayung) yang sudah menjadi trade mark

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketidakhadiran Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dalam pertemuan diskusi organisasi mahasiswa bertajuk “Dialog Mencari Solusi Permasalahan Bangsa” yang diadakan di Gedung Wantimpres, pada Rabu (21/4/2015) mendapat apresiasi dari para mantan aktivis.

Ketidakhadiran itu dinilai sebagai sikap kritis dan cerminan independensi organisasi ekstra kampus (Kelompok Cipayung) yang sudah menjadi trade mark kelompok ini sejak kelahirannya pada 22 Januari 1972.

Apresiasi datang dari Ketua Departemen Ideologi Presideium Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Paulus Londo.Menurutnya, jaga jarak terhadap kekuasaan dengan cara tidak menghadiri undangan dari Wantimpres itu merupakan sikap tegas untuk menunjukan sikap .

“PMKRI tidak mau terkontaminasi kepentingan-kepentingan kekuasaan sekarang. Bagaimanapun juga diskusi itu sarat dengan nuansa politiknya. Jadi seharusnya sikap PMKRI juga dilakukan oleh organisasi mahasiswa lain. Rasanya PMKRI mewaspadai pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh penguasa dalam rangka menjinakan gerakan mahasiswa, “ujar Paulus dalam keterangannya, Jumat (24/4/2015).

Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi alumni PMKRI (FORKOMA ), Hermawi F.Taslim memuji sikap dan pilihan PMKRI yg tidak ikut hadir dalam pertemuan tersebut. Karena selain bersifat formalitas, undangan diskusi itu terkesan ingin mengkooptasi kekuatan mahasiswa yang sekarang mulai bangkit dan mulai mengkritisi pemerintah Jokowi.

“Pengurus PMKRI dengan Ketum Presidiumnya Lidya Natalia Sartono sepertinya sadar akan sikap yang diambil meski tidak popular, karena seperti melawan arus. Namun itulah sikap Kelompok Cipayung yang seharusnya ada. Roh Kelompok Cipayung itu adalah independensi dan menjaga jarak dengan kekuasaan, sehingga mahasiswa tetap mampu mengkritisi pemerintah dengan caranya sendiri. Ini sepertinya berlawanan dengan realita bahwa banyak alumnus PMKRI yang bekerja di pemerintahan,” kata Taslim.

Taslim juga mengoreksi dan sekaligus mengkritisi, cara-cara yang digunakan Wantimpres dalam pertemuan dengan pengurus organisasi mahasiswa itu sangat kuno, mengundang untuk hadir, makan siang, basa-basi dan kemudian bubar.

“Bahkan dikatakan Wantimpres mengijinkan mahasiswa dan organisasi mahasiswa turun ke jalan untuk aksi pada tanggal 20 Mei. Lha emang ijin unjuk rasa dari Wantimpres. Itu sangat merendahkan martabat mahasiswa dan organisasinya yang merupakan gerakan moral murni?” tanya Hermawi Taslim.

Penulis: Hasiolan Eko P Gultom
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help