BATAN Ikuti The 4th Indonesia EBTKE ConEx 2015

BATAN mengenalkan teknologi nuklir ramah lingkungan di event The 4th Indonesia EBTKE ConEx 2015 yang digelar 19-21 Agustus 2015

BATAN Ikuti The 4th Indonesia EBTKE ConEx 2015
Tribunnews.com
Salah satu papan informasi mengenai teknologi nuklir ramah lingkungan yang dipajang di booth Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) di acara The 4th Indonesia EBTKE ConEx 2015. 

TRIBUNNEWS.COMBadan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mengikuti acara The 4th Indonesia EBTKE ConEx 2015 yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Rabu (19/8/2015) sampai Jumat (21/8/2015).

The 4th Indonesia EBTKE ConEx 2015 merupakan perhelatan besar nasional yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan dalam bidang energi baru terbarukan dan konservasi energi, yang bertujuan untuk mendorong pemanfaatan energi baru dan terbarukan yang lebih besar.

Kegiatan ini akan fokus pada langkah nyata untuk percepatan pencapaian target pengembangan dan pemanfaatan EBTKE yang tercantum dalam Kebijakan Energi Nasional.

Menurut Kepala Bidang Diseminasi dari Pusat Diseminasi dan Kemitraan (PDK) BATAN, Heru Santosa, pihaknya sangat bangga mengikuti acara The 4th Indonesia EBTKE ConEx 2015 ini. Sebab, BATAN berkesempatan memperdalam hubungan dengan pihak-pihak lain untuk pengembangan teknologi nuklir di bidang energi, khususnya nuklir yang ramah lingkungan di Indonesia.

Salah satu pengembangan teknologi nuklir yang telah BATAN rencanakan adalah tapak-tapak untuk calon Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang tersebar di sejumlah daerah, seperti di Semenanjung Muria, Bangka Belitung, Batam, Banten, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur.

“Namun, khusus untuk Banten, ini masih dievaluasi. Daerah tersebut baru potensial jika dilihat dari hasil studi literatur, satelit dan sebagainya. Semua rencana itu perlu waktu tiga tahun,” ujar Heru.

Lebih lanjut Heru menjelaskan, pihaknya hanya bisa menentukan tapak-tapak di daerah yang potensial untuk pembangunan PLTN. Soal pembangunannya sendiri, itu tergantung pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

“Nanti terserah pemerintah mau menggunakan atau tidak. Kita hanya memilihkan. Karena membangun PLTN itu tidak bisa di sembarang tempat,” jelas Heru.

Selain menentukan lokasi calon tapak PLTN, Heru juga menjelaskan saat ini BATAN tengah merencanakan pembangunan reaktor daya non komersial (RDNK) untuk kepentingan riset bernama proyek Reaktor Daya Eksperimental (RDE).

RDE merupakan suatu strategi pemerintah untuk mengenalkan reaktor nuklir yang menghasilkan listrik dan sekaligus dapat digunakan untuk eksperimen/riset. RDE yang dipilih adalah generasi ke-4 yang memiliki teknologi keselamatan lebih tinggi dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

RDE merupakan PLTN mini yang dimasa depan dapat diaplikasikan di daerah yang tidak membutuhkan daya besar, terutama di wilayah Indonesia bagian Tengah dan Timur.

Di samping itu, untuk menghasilkan listrik kelak tipe reaktor ini dapat dimanfaatkan untuk proses desalinasi (mengubah air laut menjadi air tawar), produksi hidrogen dan proses pencairan batubara.

“Tujuan pembangunan RDE ini adalah membangun reaktor nuklir dengan ukuran kecil yang dapat digunakan sebagai sarana penguasaan teknologi bagi putra-putri Indonesia dalam manajemen pembangunan, pengoperasian dan perawatan reaktor nuklir untuk pembangkit listrik,” ungkap Heru.

Selain itu, RDE juga akan digunakan sebagai sarana demonstrasi teknologi dan edukasi kepada seluruh stakeholders bahwa PLTN aman, ramah lingkungan dan ekonomis sebagai pembangkit listrik.

Lokasi yang dipilih untuk proyek itu sendiri adalah di Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, berdekatan dengan Reaktor Serba Guna GA Siwabessy yang sudah 28 tahun dioperasikan oleh BATAN dengan daya 30 MW.

"Kalau lancar semua dan mendapatkan dukungan pemerintah tahun 2021 reaktor daya non komersial sudah dapat beroperasi," jelas Heru.

Anggota Dewan Energi Nasional, Tumiran mengatakan bahwa energi nuklir adalah sebuah pilihan yang tidak bisa dihindari.

"Nuklir adalah energi. Nuklir adalah anugrah dari Tuhan. Tinggal mau dimanfaatkan apa tidak. Kalau dimanfaatkan ya untuk Indonesia sendiri," kata Tumiran saat mengunjungi booth BATAN di The 4th Indonesia EBTKE ConEx 2015.

Menurutnya payung hukum dari pemerintah sangat penting untuk menyakinkan publik mengenai kebutuhan akan pemanfaatan tenaga nuklir.

Menurut Ketua Penyelenggara The 4th Indonesia EBTKE ConEx 2015 Paul Butarbutar, perhelatan ini merupakan konferensi tahunan dan pameran Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) di Indonesia yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal EBTKE dan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI).

Tema acara tahun ini adalah “Time to Act: Accelerate the Implementation of Renewable Energy and Energy Efficiency”.

Acara ini merupakan forum terbaik untuk mengumpulkan stakeholder, tidak hanya dari pejabat pemerintah, tetapi juga dari industri, sektor usaha, perguruan tinggi, peneliti, media massa, organisasi non-pemerintah dan publik untuk berbagi pengetahuan dan praktik terbaik, serta menampilkan terbaru produk dan layanan di industri energi terbarukan.

Oleh karena itu, melalui The 4th Indonesia EBTKE ConEx 2015, diharapkan setiap orang dapat mengambil manfaat dari berbagi pengalaman dan pengetahuan bagaimana mengatasi tantangan dan mengambil kesempatan, membangun hubungan profesional dan memperkuat kerjasama antara pihak terkait, mensinergikan program, untuk memberikan bersih energi untuk bangsa.

BATAN sendiri terus memperkaya diri untuk mengembangkan teknologi nuklir yang ramah lingkungan. Penentuan tapak calon PLTN dan proyek RDNK hanyalah salah satu di antaranya. (advertorial)

Penulis: Advertorial
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved