APHI Sayangkan Singapura Tarik Tisu Buatan Indonesia

APHI menilai tindakan tersebut terlalu dini dilakukan karena APP masih berstatus tersangka

APHI Sayangkan Singapura Tarik Tisu Buatan Indonesia
ISTIMEWA/TRIBUN MANADO
Api terus menyala dan membakar hutan di kawasan Cagar Alam Tangkoko-Duasudara . 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) menyayangkan perusahaan ritel Singapura yang menarik tisu buatan Asia Pulp & Paper dari Indonesia.

APHI menilai tindakan tersebut terlalu dini. "Ini kan negara, artinya negara ke negara menerapkan asas praduga tak bersalah. Proses hukum masih berjalan, tapi kok sudah main tarik saja," kata Koordinator Bidang Hukum dan Humas APHI, Yuki Wardhana, di Cikini, Jakarta, Sabtu (10/10/2015).

Yuki berpendapat harusnya Pemerinah Singapura memberikan respon kepada para pengusaha ritel setempat.

Kata Yuki, tindakan tersebut tidak tepat karena proses hukum di Indonesia masih berjalan.

"Seharusnya pemerintah merespons ini dengan tegas. Proses hukum sedang berjalan, kan kami sedng berupaya. APHI justru menyayangkan hal yang dilakukan oleh Singapura," tukas Yuki.

Sebelumnya, jaringan supermarket terbesar di Singapura, NTUC FairPrice menyatakan akan menarik tisu dan produk lain buatan perusahaan asal Indonesia, Asia Pulp & Paper menyusul terjadinya kabut asap yang melanda negeri jiran itu.

Sebagaimana dikutip dari Kompas.com, NTUC FairPrice menilai Asia Pulp & Paper bertanggung jawab atas kebakaran hutan serta kabut asap yang "menyiksa" banyak negara tetangga.

Atas kejadian itu, perusahaan ritel ini akan menarik seluruh produk perusahaan tersebut pada Rabu ini mulai pukul 17.00 waktu Singapura.

Sejumlah produk yang akan ditarik di antaranya merek Paseo, Nice dan Jolly.

Langkah yang dilakukan NTUC FairPrice ini dilakukan menyusul terjadinya pembakaran hutan secara ilegal di kawasan Sumatera dan Kalimantan.

Kondisi ini diproyeksikan akan berkontribusi terhadap menurunnya jumlah kunjungan wisata, kesehatan dan produktivitas di Asia Tenggara.

Sementara itu, APP dalam penjelasannya menyatakan telah memberikan berbagai informasi yang diminta oleh otoritas Singapura.

Perusahaan ini juga berencana mengundang perwakilan Pemerintah Singapura untuk berkunjung ke lokasi operasional perusahaan di Indonesia.

“Kami memperlakukan hutan secara hati-hati. Kami telah bekerjasama dengan para pemasok dan pemerintah dalam selama berbulan-bulan untuk mengontrol kebakaran hutan,” jelas APP dalam keterangan resminya.

Penulis: Eri Komar Sinaga
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help