Rentak Harmoni, Sebuah Kolaborasi Seni untuk Berbagi

Drama musikal yang digagas beberapa alumni Pengajar Muda Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) itu sukses menginspirasi penonton saling berbagi kepedulian

Rentak Harmoni, Sebuah Kolaborasi Seni untuk Berbagi
ISTIMEWA
Pentas drama musikal Rentak Harmoni yang digagas beberapa alumni Pengajar Muda Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) di Taman Ismail Marzuki (TIM), Sabtu (30/1/2016). 

TRIBUNNEWS.COM – “Mari berbagi, saling peduli. Wujudkan mimpi ibu pertiwi. Kolaborasi seni dari hati. Bergerak serentak dalam harmoni.”

Lirik itulah yang menjadi pembuka pementasan Rentak Harmoni di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Sabtu (30/1/2016) yang lalu.

Drama musikal yang digagas beberapa alumni Pengajar Muda Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) sejak September 2014 itu sukses menginspirasi penonton saling berbagi kepedulian dan mimpi anak bangsa.

Dibuka Menteri Pendidikan Dasar & Menengah dan Kebudayaan, Anies Baswedan, Rentak Harmoni merupakan bukti nyata masih banyak kepedulian terhadap bangsa Indonesia, terutama dalam bidang penddikan.

Pementasan yang melibatkan lebih dari 150 relawan---mulai dari tim peran sampai musik---merupakan bentuk nyata kolaborasi para individu dengan berbagai latar belakang. Mulai dari dokter gigi, auditor, pengacara, dosen, Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan lain-lain.

Menurut para pemeran Rentak Harmoni, mereka percaya siapa saja berhak belajar dan berbagi di mana saja dalam waktu kapan pun, serta bebas berinteraksi dengan berbagai macam latar belakang yang berbeda.

Rentak Harmoni sendiri merupakan drama musikal yang bercerita tentang berbagai sudut pandang soal mimpi, keselarasan, dan kebersamaan yang terjadi di taman di Warita Dikara.

Taman di Warita Dikara merupakan jantung kehidupan masyarakat. Namun, sayangnya, pelan-pelan diketahui ada rencana pembangunan gedung-gedung tinggi pencakar langit. Hal itu tentunya mau tidak mau membuat keberadaan taman di Warita Dikara terancam.

Meski pembangunan gedung-gedung tinggi dipercaya bisa meningkatkan harkat kehidupan masyarakat, hal itu ditolak masyarakat Warita Dikara. Akibatnya, berbagai cara dilakukan oleh Buntala untuk mensukseskan pembangunan.

Pasalnya, ia berpendapat, perubahan seperti itu memang pasti dan harus dilakukan karena setiap orang dituntut mengikuti perkembangan zaman.

Namun, benarkah perubahan menuju perbaikan itu harus selalu menghancurkan yang baik dari masa sebelumnya?

Pertanyaan itulah yang dijawab oleh pergolakan rasa dan logika. Nara, pemuda asli Warita Dikara yang diyakini menjadi penerus masa depan daerah sadar, sesuatu harus dilakukan segera.

Ia kemudian berinteraksi dengan kawan, orang tua dan Sigra, seorang gadis kota yang baru sekali merantau keluar dari kenyamanan kota dan orang tuanya.

Setiap proses dan pergolakan yang dibangun dan tercipta oleh Nara akhirnya mengarahkan dirinya untuk mendengarkan dan percaya pada nuraninya.

Ia melihat perubahan itu tidak perlu menghabisi apa yang telah ada sebelumnya. Sebaliknya, ia melihat bahwa perubahan itu perlu dilakukan untuk meningkatkan apa yang sudah baik untuk dikembangkan lebih jauh.

Alur cerita di Warita Dikara tersebut terbagi dalam 18 babak dan diiringi 17 buah lagu. Semua itu merupakan hasil karya kreatif dari seluruh tim pemusik bersama tim peran. Mulai dari lagu sampai pada liriknya.

Hal itu bisa dibilang sangat menarik. Pasalnya, para pemeran turut menyusun bait lirik dan melodi yang ada. Akibatnya, keterikatan emosional ketika mereka bernyanyi bersama-sama terasa sangat kental.

Didukung lirik-lirik yang mendalam tapi mendasar dalam kehidupan, Rentak Harmoni merupakan drama musikal yang sukses.

Lirik lagu itu sendiri disusun oleh Dhani Nugraha yang merupakan penanggung jawab utama musik dan vokal, serta Astri Adhiningsih yang juga merupakan pemeran Adine. Satu lagu yang pantas mendapat perhatian adalah Bangun dan Berlari.

Rentak Harmoni diselenggarakan sebanyak dua kali dan disaksikan lebih dari 400 orang pada siang hari dan 800 orang pada malam hari.

Selama kurang lebih 3 jam, Rentak Harmoni terasa menarik meski ide cerita yang ingin disampaikannya cenderung berat.

Hal itu menjadi hal yang memungkinkan karena tim kreatif Rentak Harmoni dapat mengemas pesan tersebut menjadi menyenangkan.

Kehadiran sosok-sosok masyarakat Warita Dikara yang memiliki kekhasannya masing-masing juga memberikan warna tersendiri. Sentuhan humor yang ada di dalamnya menyenangkan untuk dinikmati.

Interaksi para pemeran yang telah berlatih bersama-sama selama tujuh bulan terasa cair sekaligus hangat.

Dua buah pementasan telah sukses diselenggarakan beberapa alumni Pengajar Muda GIM. Mereka yang awalnya hanya mengawang-awang kosong pada petikan ide yang terlampau besar, mungkin hanya jadi bahan lelucon ketika mengingat-ingatnya waktu pertama kali dilontarkan.

Ditambah cita-cita untuk mendonasikan seluruh hasil yang didapat selama proses pementasan ke Iuran Publik GIM, mereka mempunyai cita-cita memberikan dukungan dana operasional Indonesia Mengajar dalam berpartisipasi mendorong situasi pendidikan negeri menjadi lebih baik.

Sebagaimana diungkapkan Ibu Ferry Baswedan sebagai Dewan Pembina Rentak Harmoni, pementasan ini merupakan karya anak negeri yang dibuat dari, oleh, dan untuk pendidikan Indonesia.

Di sisi lain, keberhasilan Drama Musikal Rentak Harmoni merupakan pertanda, masih ada ruang terang di Indonesia bagi mimpi, ide, dan cita-cita besar menuju perubahan dan perbaikan, ketika hal tersebut dikerjakan secara bersama-sama tanpa pantang menyerah.

Seperti disampaikan Martya Listia, niatan baik akan selalu mendapat dukungan semesta untuk menemukan jalannya.

Penulis: Advertorial
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help