Prahara Partai Golkar

Kader Golkar Tidak Ada yang Berani Tantang Ical Saat Kuat

Pemilihan ketua umum saat Munas harus berlangsung bebas dan rahasia

Kader Golkar Tidak Ada yang Berani Tantang Ical Saat Kuat
Tribunnews.com/ Ferdinand Waskita
Hajriyanto Y Thohari 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Politikus Senior Golkar Hajriyanto Y Tohari menilai positif banyaknya calon ketua umum yang muncul menjelang Musyawarah Nasional (Munas).

Apalagi, Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie sudah menyatakan tidak akan Maju kembali di arena Munas mendatang.

"Munculnya banyak calon positif, tidak ada berani yang menantang ketika beliau (Ical) kuat. Kayak desakan Munaslub, banyak yang tidak berani berbeda," kata Hajriyanto dalam diskusi 'Mau Kemana Golka?' di kawasan Cikini, Jakarta, Minggu (21/2/2016).

Hajr‎iyanto mengingatkan bahwa pemilihan ketua umum saat Munas harus berlangsung bebas dan rahasia. Surat dukungan tertulis dinilai sudah tidak diperlukan lagi.

Ia mengatakan peserta munas harus melakukan vote atau pemilihan suara sehingga Munas berjalan demokratis. "Kalau pakai surat dukungan, bila dapat dukungan lebih 30 persen langsung dapat dikukuhkan ketua umum padahal belum terjadi sebuah vote. Ini DPD Golkar sekarang cair, apalagi tidak ada incumbent, masing-masing calon bisa saling klaim," kata Mantan Wakil Ketua MPR itu.

Sedangkan Politikus Muda Golkar Meutya Hafid mengapresiasi banyaknya calon ketua umum. Hal itu menimbulkan proses demokrasi terbuka di tubuh Golkar. Ia meminta bila ketua umum telah terpilih‎ maka tidak ada lagi pemecatan karena berbeda pendapat.

"Enggak boleh ada pemecatan. Ini kan ramainya karena ini (perbedaan), beri ruang perbedaan," katanya.

Mengenai kriteria ketua umum, Meutya menilai pemimpin Golkar harus memiliki jiwa konseptor yang dapat melakukan re-branding partai berlambang pohon beringin itu.

Kemudian, ketua umum harus memiliki pengalaman organisasi yang lama sehingga Golkar dapat menjawab tantangan masa kini. Ketum Golkar juga harus menjadi jembatan komunikasi antara kelompok muda dan senior.

"Terakhir, ketum harus dekat dnegan publik," imbuhnya.

Penulis: Ferdinand Waskita
Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved