Presiden Filipina ke Jakarta

'Konyol Jika Kedatangan Duterte Ingin Tukar Mary Jane dan Kuota Haji

Akan konyol jika kedatangan Duterte ingin tukar Mary Jane dengan kuota haji. Ini akan jadi akal-akalan politik saja nanti

'Konyol Jika Kedatangan Duterte Ingin Tukar Mary Jane dan Kuota Haji
Tribunnews.com/Amriyono
Pengacara publik LBH Jakarta, Ricky Gunawan 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengacara publik LBH Jakarta, Ricky Gunawan menjelaskan bahwa akan menjadi sebuah hal yang lucu apabila kedatangan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte untuk menukar Mary Jane dengan isu kuota haji.

"Akan konyol jika kedatangan Duterte ingin tukar Mary Jane dengan kuota haji. Ini akan jadi akal-akalan politik saja nanti," jelasnya saat ditemui di Plaza Indonesia, Jakarta, Jumat (9/9/2016).

Dia menjelaskan, nyawa satu orang, tidak dapat ditukar dengan apapun termasuk masalah kuota haji yang dimiliki oleh Filipina. Hal itu, kata dia, merupakan dua urusan yang berbeda.

Diketahui bahwa Mary Jane Veloso adalah terpidana mati yang didakwa sebagai bandar narkotika di Indonesia. Mary Jane lolos dari eksekusi mati jilid III karena masih ada proses hukum yang harus dilalui.

Namun begitu, dalam proses hukum di Filipina, menyatakan bahwa Mary Jane merupakan korban dari tindak pidana perdagangan manusia dan masuk ke Indonesia.

"Kalau memang ada dua proses hukum yang berbeda, seharusnya ada proses baru di dua negara ini. Bukan berarti harus tukar guling seperti itu," kata Ricky.

Seperti diketahui, muncul isu barter pemulangan ratusan calon jemaah haji ilegal asal Indonesia, dengan terpidana mati kasus narkoba Mary Jane Veloso awal pekan ini.

Filipina menyebut, pemulangan ratusan WNI itu sebagai itikad baik Duterte menjelang berjumpa dengan Jokowi hari ini.

Pertengahan Agustus lalu, sebanyak 177 calon jemaah haji tertahan di Manila. Mereka ditahan otoritas Filipina karena menggunakan paspor palsu.

Sebanyak 168 orang telah dipulangkan awal pekan ini. 177 calon jamaah haji itu merupakan korban penipuan.

Maka itu, Kemenkumham akan berupaya untuk melindungi mereka, dengan cara bernegosiasi dan bekerja sama dengan Pemerintah Filipina.

Penulis: Amriyono Prakoso
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help