Perjalanan Kasus Munir

Belum diketahui siapa yang telah meracuni Munir, meskipun ada yang menduga bahwa oknum-oknum tertentu memang ingin menyingkirkannya.

Perjalanan Kasus Munir
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Ketua Pengurus Omah Munir yang juga istri alm. Munir Suciwati (kiri) bersama Koordinator Kontras Haris Azhar (kanan) melakukan konferensi pers terkait 11 tahun pembunuhan Munir di Kantor Kontras, Jakarta, Minggu (6/9/2015). Omah Munir bersama Kontras, dan Imparsial menuntut Presiden Joko Widodo untuk tidak melindungi pelaku pembunuhan Munir dan harus menuntaskan kasus Munir yang sudah 11 tahun tidak menemukan titik terang. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-Bernama lengkap Munir Said Thalib. Semasa hidup sebagai aktivis yang kerap membela nasib rakyat kecil. Pada 7 September 2004, Munir dikabarkan wafat di pesawat Garuda GA-974 kursi 40 G dalam sebuah penerbangan menuju Amsterdam, Belanda. Sedianya, Munir berangkat ke Belanda untuk kuliah di Universitas Utrecht.

Kasus tewasnya Munir kemudian menjadi heboh. Dalam persidangan kemudian terungkap, Munir diduga dibunuh dengan menggunakan racun arsenik sampai sekarang, kematian Munir, masih sebuah misteri. Jenazahnya dimakamkan di taman makam umum Kota Batu, Malang, Jawa Timur.

Dikutip dari wikipedia.com, pada tanggal 12 November 2004 dikeluarkan kabar bahwa polisi Belanda (Institut Forensik Belanda) menemukan jejak-jejak senyawa arsenikum setelah otopsi.

Hal ini juga dikonfirmasi oleh polisi Indonesia. Belum diketahui siapa yang telah meracuni Munir, meskipun ada yang menduga bahwa oknum-oknum tertentu memang ingin menyingkirkannya.

Pada 20 Desember 2005 Pollycarpus Budihari Priyanto dijatuhi vonis 14 tahun hukuman penjara atas pembunuhan terhadap Munir. Hakim menyatakan bahwa Pollycarpus, seorang pilot Garuda yang sedang cuti, menaruh arsenik di makanan Munir, karena dia ingin mendiamkan pengkritik pemerintah tersebut.

Hakim Cicut Sutiarso ketika itu menyatakan sebelum pembunuhan Pollycarpus menerima beberapa panggilan telepon dari sebuah telepon yang terdaftar oleh agen intelijen senior, tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut.

Selain itu Presiden Susilo juga membentuk tim investigasi independen, namun hasil penyelidikan tim tersebut tidak pernah diterbitkan ke publik.

Mantan Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra kemudian mengungkap, laporan hasil tim pencari fakta kasus pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib diserahkan langsung ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2005. Penyerahan laporan itu tidak melalui sekretariat negara.

"Setahu saya pada waktu itu TPF menyerahkan laporan itu langsung by hand kepada Presiden," kata Yusril dikutip dari kompas.com.

Yusril menambahkan, tidak ada perintah dari SBY agar sekretariat negara mengarsipkan dokumen tersebut.

Halaman
12
Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2016
About Us
Help