Penyidik KPK Diteror

Polisi Dinilai Lambat Tangani Kasus Novel, Presiden Jokowi Disarankan Bentuk Tim Independen

Kinerja kepolisian dinilai lambat dalam mengungkap kasus penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan

Polisi Dinilai Lambat Tangani Kasus Novel, Presiden Jokowi Disarankan Bentuk Tim Independen
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Massa dari Gerakan Ganyang Mafia Hukum (GGMH) melakukan unjuk rasa terkait teror penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan, di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Kamis (13/4/2017). Dalam aksinya, mereka mendesak negara tidak membiarkan teror koruptor merajalela, mendukung Presiden Joko Widodo yang memberi perintah kepada Kapolri untuk segera menangkap dan mengusut tuntas motif di balik penyerangan terhadap Novel Baswedan, serta mendukung KPK tidak surut dalam pemberantasan koruptor. TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kinerja kepolisian dinilai lambat dalam mengungkap kasus penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan. Hal itu dikatakan Sekretaris Fraksi Partai Nasdem DPR, Syarief Abdullah Alkadrie melalui keterangan tertulis, Senin (17/4/2017).

"Kita minta Polri bekerja lebih maksimal, gesit dan cepat dalam pengungkapan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK, Novel Bawesdan. Kesannya lambat," kata Syarief.

Kasus-kasus teror terhadap aparat institusi negara terutama KPK, kerap terjadi dan belum terdengar ada yang terungkap.

"Saat ini, kepolisian dalam sorotan masyarakat. Jangan sampai kepercayaan kepada lembaga negara (Polri) ini semakin menurun. Apalagi saat ini, kasus yang ditangani terkait teror terhadap penyidik KPK," kata Syarief.

Syarief mengharapkan kasus ini dengan segera terungkap dan transparan. Menurutnya, pengungkapan secara transparan penting artinya agar kasus ini tidak melebar dan membuat masyarakat menduga-dugan.

"Kita ingin kasus ini bisa ditangani secara profesional dan proporsional," papar Syarief.

Syarief juga mengimbau kepada semua pihak yang mengetahui dan memiliki bukti-bukti sekecil apapun untuk mendapat membantu pihak kepolisian.

"Profesional institusi kepolisian saat ini sedang diuji dan masyarakat menunggu hasil," tukas anggota Komisi V DPR itu.

Abdullah menyarankan presiden membentuk tim independen untuk mempercepat dan transparansi dalam penanganan serta pengungkapan kasus ini.

Sebelumnya, kepolisian masih memburu pelaku penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan.

Novel diserang dua orang tak dikenal, Selasa (11/4/2017). Kedua orang itu, menyiram cairan asam sulfat ke muka Novel, hingga penglihatannya buram. Kedua pelaku masih misteri.

Polisi masih mengumpulkan bukti-bukti, dan keterangan saksi untuk mencari pelaku penyerangan terhadap Novel. Kini, polisi telah memeriksa sekitar 16 saksi dalam penyelidikan.

"Ya. Belum (diketahui pelaku), masih dalam penyelidikan, kita belum dapat siapa pelakunya," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono, saat dihubungi wartawan, Minggu (16/4/2017).

Sementara untuk kelanjutan penyembuhan luka, Novel tengah berada di Singapura untuk dilakukan perawatan intensif.

Penulis: Ferdinand Waskita
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help