Aksi Petani Kendeng

Kartini Kendeng: Tanpa Pabrik Semen Pun Kita Sudah Sejahtera

"Bagi warga Kendeng, alam yang asri tanpa industri adalah penopang hidup utama,"

Kartini Kendeng: Tanpa Pabrik Semen Pun Kita Sudah Sejahtera
Tribunnews.com/ Rizal Bomantama
Komnas Perempuan menyerahkan hasil investigasi dampak negatif pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng kepada warga perempuan Kendeng sebagai peringatan Hari Kartini di Kantor Komnas Perempuan, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (21/4/2017). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rizal Bomantama

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Beban kehidupan terlihat dari raut wajah sedih Sukinah (37) dan Giyem (33).

Kedua petani asal Pati dan Rembang ini menghadiri undangan peringatan Hari Kartini sederhana di Kantor Komnas Perempuan, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (21/4/2017) sore.

Gestur tubuh mereka nampak kaku saat mendampingi pimpinan Komnas Perempuan mempresentasikan adanya dugaan pelanggaran HAM akibat pembangunan serta aktifitas penambangan di Pegunungan Kendeng, Rembang.

Keduanya juga tampak malu-malu saat memberi gambaran mengenai kondisi perempuan di lokasi yang mereka sebut tanah tumpah darah Kartini.

Mengenakan pakaian khas adat pedesaan di Pati dan Rembang, kini mereka yang terbiasa bertani harus berjibaku melawan kerusakan alam.

Komisioner Komnas Perempuan, Adriana Veny Aryani menjelaskan perempuan yang turut menjadi pejuang Kendeng adalah refleksi visioner RA Kartini.

Mereka meminta kembali hak asasi manusia yang melekat pada warga negara, termasuk kaum perempuan.

"Bagi warga Kendeng, alam yang asri tanpa industri adalah penopang hidup utama," katanya.

Kata dia, warga akan merasa dihilangkan hak hidupnya saat Pegunungan Kendeng sebagai sumber air utama diubah menjadi kawasan industri.

Halaman
12
Penulis: Rizal Bomantama
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help