Meriam Giant Bow Disamarkan Pakai Semak dan Dedaunan

Altileri tersebut disamarkan lewat cara dibalut semacam kain berwarna hijau tua, lalu dibalut lagi dengan semak-semak serta dedaunan.

Meriam Giant Bow Disamarkan Pakai Semak dan Dedaunan
Nurmulia Rekso P/TRIBUNnews.com
Meriam Giant Bow pelontar peluru 23 mm, yang disamarkan dengan kain hijau serta semak, di lokasi latihan puncak Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Natuna, Kepulauan Riau, Jumat (19/5/2017). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nurmulia Rekso Purnomo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA --- Meriam Giant Bow pelontar peluru kaliber 23 mm, batal berpartisipasi pada latihan puncak Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Natuna, Kepulauan Riau, Jumat (19/5/2017).

Hal itu menyusul insiden malfungsi pada Rabu lalu (17/5/2017).

Walaupun tidak difungsikan, meriam buatan Tiongkok itu tetap berada di posisinya semula, di sisi utara Tanjung Datuk, Natuna. Laras ganda altileri tersebut tetap diarahkan ke Laut Cina Selatan (LCS).

Sedianya, sembilan unit altileri ringan itu akan beraksi dengan cara menembaki pesawat nirawak yang terbang di atas pesisir Tanjung Datuk.

Karena tidak difungsikan, meriam pelontar peluru 23 mm itu masih disiagakan di posisi semula.

Meriam-meriam tersebut disusun berbanjar, dengan jarak sekitar dua meter di setiap meriam.

Altileri tersebut disamarkan lewat cara dibalut semacam kain berwarna hijau tua, lalu dibalut lagi dengan semak-semak serta dedaunan. Sehingga dari jauh sulit untuk dikenali.

Namun demikian, sejumlah pelontar pesawat nirawak untuk sasaran tembak meriam tersebut, tidak disamarkan. Sejumlah anggota TNI pun tatap menjaga altileri tersebut dengan ketat.

Meriam tersebut tidak ada yang difungsikan, karena meriam ke delapan pada Rabu lalu, tiba tiba penyangga larasnya tidak berfungsi. Akibatnya arah tembakan menjadi liar.

Saat meriam hendak melumpuhkan pesawat nirawak dengan memuntahkan ratusan peluru, tiba tiba laras berbelok ke arah Barat, sehingga peluru menghajar meriam ke tujuh dan ke enam.

Alhasil anggota TNI yang berada di sekitar lokasi, menjadi korban dari peluru kaliber 23 mm, dan empat diantaranya tewas.

Panglima Kostrad, Letjend TNI Edy Rahmayadi, kepada wartawan di lokasi kejadian, mengaku belum bisa menyimpulkan penyebab malfungsi tersebut. Hal itu bisa diketahui setelah proses invetigasi selesai.

"Saya belum bisa jawab itu. Yang bisa menyampaikan hal tersebut adalah yang berwenang, yaitu dari peralatan, dari Pom (red: provost), dari Irjen yang memang itu fungsinya," katanya.

Penulis: Nurmulia Rekso Purnomo
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help