'Indonesia Dilanda Over Politicized, Masyarakat Susah Bedakan Mana Politik Mana Bukan'

Guru besar sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Firmanzah mengingatkan kondisi Indonesia yang sudah 'over politicized'.

'Indonesia Dilanda Over Politicized, Masyarakat Susah Bedakan Mana Politik Mana Bukan'
Eri Komar Sinaga/Tribunnews.com
Profesor Firmanzah 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Guru besar sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Firmanzah mengingatkan kondisi Indonesia yang sudah 'over politicized'.

Ini adalah istilah yang menggambarkan betapa masyarakat di Indonesia mencap segala sesuatu terkait politik secara berlebihan.

Firmanzah berpendapat keadaan ini bisa disebabkan karena masyarakat kehilangan visi besar atau common platform sehingga masyarakat terbagi-bagi dalam berbagai kelompok yang memandang satu sama lain adalah liyan.

"Kita terlalu 'over politicized'. Kita tidak tahu batas mana politik dan tidak. Hubungan saudara pecah gara-gara politik. Hubungan pertemanan pecah karena politk. Masyarakat kita susah bedakan mana politik mana bukan, mana politik mana sistem ketatanegaraan. Semuanya dibawa ke politik," kata Firmanzah saat diskusi bertajuk Meraba Peluang Kebangkitan di Panggung Dunia, di Menteng, Jakarta, Sabtu (20/5/2017).

Di Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap tanggal 20 Mei, Firmanzah mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memikirkan nilai bersama agar jurang pemisah tidak semakin melebar.

Baca: Serunya Para Gubernur Latihan Militer, Nggak Serem Meski Pegang Senjata dan Peluru Sungguhan

Indonesia pada tahun depan kembali akan menggelar Pilkada serentak yang berjumlah 171, belum lagi pelaksanaan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden yang dilakanakan serentak pada tahun 2019.

Firmanzah khawatir masyarakat akan larut dalam perpecahan dan sibuk dalam dunia maya untuk terus mengurusi politik. Sementara itu, produktivitas tidak naik.

Padahal, negara lain tidak seberisik Indonesia ketika ada hajatan politik.

Firmanzah mencontohkan Pilkada DKI yang menyedot perhatian besar dari berbagai lapisan masyarakat.

Mulai dari tokoh politik, artis, akademisi, pengusaha semua merambah politik sehingga menjadi tarikan politik yang luar biasa. Kita harus berhenti karena ini tidak sehat lagi.

"Sekarang saja media sosial di Indonesia terutama di Jakara paling berisik di dunia. Produktivitas kita tidak naik. Kita habiskan banyak waktu di depan smartphone untuk bercakap-cakap, negara lain seperti Amerika Serikat, Canada, menghabiskan waktu untuk asah skill dan kompetensinya di bidang masing-masing," ungkap Firmanzah. (Eri Komar Sinaga)

Penulis: Eri Komar Sinaga
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help