Demokrat Tegaskan Akan Pilih Opsi B RUU Pemilu

Sedang sistem pemilu yang akan dipakai adalah sistem terbuka dan konversi suara menggunakan cara hitung Kuota Hare

Demokrat Tegaskan Akan Pilih Opsi B RUU Pemilu
Tribunnews.com/ Amriyono Prakoso
Sekjen Partai Demokrat, Hinca Pandjaitan. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Amriyono Prakoso

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lima opsi akan dipilih oleh DPR untuk menentukan lima isu krusial yang ada di RUU Pemilu pada 20 Juli mendatang.

Fraksi pendukung pemerintah, menyatakan akan memilih Opsi A di RUU Pemilu.

Menanggapi hal itu, Sekjen Partai Demokrat, Hinca Pandjaitan menyatakan partainya akan tetap memilih opsi B, sebagaimana yang selama ini diperjuangkan oleh mereka.

"Kalau dilihat dari opsi yang ada, maka kami akan tetap yang B," jelasnya saat dihubungi, Jakarta, Senin (17/7/2017)

Opsi B yang dimaksud yakni, ambang batas pencalonan presiden sebesar nol persen, sementara ambang batas parlemen berada di angka empat persen dari perolehan suara.

Sedang sistem pemilu yang akan dipakai adalah sistem terbuka dan konversi suara menggunakan cara hitung Kuota Hare, dengan besaran kursi 3-10 orang caleg di setiap daerah pemilihan.

Menurut Hinca, hal itu sudah paling tepat untuk RUU Pemilu, mengingat, pemilu 2019, berbeda sama sekali dengan pemilu 2014 lalu. Sehingga tidak lagi penting, ambang batas pencalonan presiden.

"Dapatnya dari mana? Pemilu kemarin? Kan sudah beda. Kemarin itu, legislatif dulu baru presiden, sekarang kan langsung dua-duanya dipilih," kata dia.

Penulis: Amriyono Prakoso
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help