Korupsi KTP Elektronik

Fahri: Setya Novanto Bukan Orang yang Suka Ngotot

Hal ini terkait desakan agar Setya Novanto yang menjadi tersangka KPK dalam kasus KTP elektronik.

Fahri: Setya Novanto Bukan Orang yang Suka Ngotot
ISTIMEWA
Setya Novanto 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menyebutkan, pimpinan dewan bakal membahas posisi Ketua DPR Setya Novanto menjelang upacara kemerdekaan 17 Agustus dan juga HUT DPR pada 29 Agustus mendatang.

"Kita harus putuskan bersama-sama, bagaimana kalau proses hukum Pak Novanto itu belum selesai sampai pada tanggal-tanggal itu. Kita akan putuskan," kata Fahri kepada wartawan di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (7/8/2017).

Ketua DPR bakal memimpin salah satu agenda dalam sidang paripurna menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan pada 16 Agustus mendatang di parlemen.

Hal ini terkait desakan agar Setya Novanto yang menjadi tersangka KPK dalam kasus KTP elektronik.

Lebih lanjut Fahri mengatakan, Setya Novanto dapat memahami statusnya sebagai tersangka dalam menjalankan tugas simbolik kenegaraan, seperti pidato maupun pembacaan teks proklamasi sebagai Ketua DPR.

"Setahu saya, Pak Novanto itu bukan orang yang suka ngotot. Dalam soal-soal begini, begitu dia ngerti rasa juga," kata Fahri.

Fahri mengatakan, keputusan soal itu masih akan dibahas dalam rapat pimpinan dewan.

Namun, menurutnya soal siapa yang akan memimpin sidang tidak akan menjadi masalah karena pimpinan menganut asas kolektif kolegial.

"Karena itu lah nanti dalam rapim ini dibahas dan saya yakin betul Pak nov bukan orang yang suka ngotot soal-soal begini," katanya.

Sebelumnya Koordinator Divisi Korupsi Politik ICW, Donal Fariz menilai Setya Novanto tidak layak menjadi pembaca teks proklamasi.

"Teks proklamasi itu suci, pejuang berdarah-darah lho untuk bisa bacakan teks ini," kata Donald saat dikonfirmasi.

Status Setya Novanto sebagai tersangka korupsi kasus KTP elektronik menurutnya mencoreng sejarah negara Indonesia.

"Masa seorang tersangka korupsi. Itu sangat memalukan dan akan jadi sejarah republik ini, bahwa pembaca teks proklamasi adalah seorang tersangka korupsi, yang masih nyaman duduk di kursi pimpinan DPR," kata Donal.

Penulis: Wahyu Aji
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help