Hatta Rajasa Nilai Sudah Saatnya Umat Islam Hidupkan Tradisi Keilmuan

Hatta menyebut bangsa Indonesia setidaknya juga perlu bersyukur, umat islam masih dapat menjalankan kehidupan yang jauh lebih baik.

Hatta Rajasa Nilai Sudah Saatnya Umat Islam Hidupkan Tradisi Keilmuan
Kompas.com
Hatta Rajasa, saat ditemui di kediamannya di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan, Senin (28/7/2014). 

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Mantan Menko Perekonomian Hatta Rajasa menilai, sudah saatnya umat Islam kembali menghidupkan tradisi keilmuan.

Menteri era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut mengatakan menumbuhkan intelektual Islam,  merupakan kunci agar Islam bangkit memberikan sumbangan bagi tatanan dunia baru yang lebih adil, harmonis dan damai.

"Kuncinya adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak ada jalan pintas, selain kembali kepada alquran dan assunah, serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi," ujar Hatta Rajasa saat menjadi khatib Salat Jumat di Masjid Salman ITB, Bandung, Jumat (11/8/2017).

Hatta menjelaskan, ada tiga fakta pergerakan keilmuan dalam masyarakat yang pada gilirannya melahirkan para ilmuwan islam yang memberikan sumbangsih besar dalam inovasi di berbagai bidang.

Pertama, menjamurnya perpustakaan umum (library) di Baghdad, Cordoba, Sevilla, Kairo, Quds, Damascuss, Tripoli, Madinah, Yaman dan Wakas.

"Ironisnya sebagian kota-kota tersebut saat ini dalam kondisi yang menyedihkan, kalau tidak ingin dikatakan luluh-lantak," ujar mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional tersebut.

Kedua, lanjutnya, yakni menjamurnya majelis-majelis ilmu (lembaga penelitian) yang merangsang masyarakat umum untuk berdialog, berdiskusi, meneliti yang pada gilirannya dapat melahirkan penemuan-penemuan baru.

"Yang ketiga, menjadikan infak untuk ilmu, sebagai sedekah dan sarana mendekatkan diri pada Allah," tegasnya.

Hatta yang juga alumnus Insitut Teknologi Bandung (ITB) tersebut menambahkan, secara geopolitik dan ekonomi, umat Islam dapat melihat dan merasakan peran umat Islam dalam tatanan global tengah mendapatkan tekanan dan ujian yang berat.

Di kawasan Timur Tengah (middle east) dan sebagian Afrika, misalnya, dapat dikatakan sebagai kawasan yang tidak stabil, perang dan penuh ketidakpastian.

Halaman
12
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help