Keluarga Minta Abu Bakar Baasyir Jadi Tahanan Rumah

Keluarga Abu Bakar Baasyir meminta agar narapidana (napi) kasus terorisme itu menjadi tahanan rumah

Keluarga Minta Abu Bakar Baasyir Jadi Tahanan Rumah
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Terdakwa kasus dugaan terorisme, Abu Bakar Baasyir, menjalani sidang dengan agenda pembacaan vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (16/6/2011). Pada sidang itu, majelis hakim menjatuhkan vonis 15 tahun penjara kepada Baasyir, lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum yaitu seumur hidup. (TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Keluarga Abu Bakar Baasyir meminta agar narapidana (napi) kasus terorisme itu menjadi tahanan rumah atau dibebaskan dari penahanan dalam penjara karena usia senja dan sudah sakit-sakitan.

"Keluarga melihat kondisi kesehatan Ustaz Baasyir semakin tua, tentu kondisi kesehatan semakin menurun, serangan-serangan bisa terjadi sesaat karena kondisi fisik semakin tua menurun," kata putra Baasyir, Abdul Rohim Baasyir, di Jakarta, Sabtu.

Kamis (10/8/2017) lalu napi teroris berusia 80 tahun itu dibawa ke Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta untuk menjalani pemeriksaan karena kakinya bengkak. Dari hasil pemeriksaan diketahui adanya masalah pada pembuluh darah vena kaki.

Sebelumnya, 16 Juni 2011 Abu Bakar Baasyir dijatuhi hukuman penjara selama 15 tahun oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan setelah terbukti terlibat dalam pendanaan pelatihan teroris di Pegunungan Jantho Aceh dan mendukung terorisme di Indonesia.

Sejak awal 1980-an, Baasyir sering bermasalah dengan hukum di Indonesia. Pada 1983 dia dan Abdullah Sungkar ditangkap poilisi setelah dituduh melakukan penghasutan untuk menolak asas tunggal Pancasila.

Selaku pemimpin suatu pondok pesantren dia melarang santrinya berhormat kepada bendera merah putih karena menurut dia itu perbuatan syirik.

Dia juga dianggap merupakan bagian dari gerakan Hispran (Haji Ismail Pranoto)--salah satu tokoh Darul Islam/Tentara Islam Indonesia Jawa Tengah. Di pengadilan, keduanya divonis sembilan tahun penjara.

Pada 3 Maret 2005, Baasyir dinyatakan bersalah atas konspirasi serangan bom 2002, tetapi tidak bersalah atas tuduhan terkait bom 2003. Dia divonis 2,6 tahun penjara.

Pada 17 Agustus 2005, masa tahanannya dikurangi 4 bulan dan 15 hari. Hal ini merupakan tradisi pada peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Ia dibebaskan pada 14 Juni 2006.

Pada 9 Agustus 2010 Baasyir kembali ditahan oleh Kepolisian RI atas tuduhan membidani satu cabang Al Qaida di Aceh dan pada 16 Juni 2011 dia dijatuhi hukuman penjara selama 15 tahun atas kesalahannya itu.

Halaman
12
Editor: Sanusi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help