Full Day School

Fahri Hamzah Minta Jokowi Bela Menteri Muhadjir

Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah mengatakan kebijakan full day school yang dicetuskan Mendikbud Muhadjir Effendy sejatinya bermaksud baik.

Fahri Hamzah Minta Jokowi Bela Menteri Muhadjir
TRIBUNNEWS.COM/ Vincentius Jyestha
Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah saat ditemui awak media selepas sidang paripurna, di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Rabu (16/8/2017). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Wahyu Aji

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah mengatakan kebijakan full day school yang dicetuskan Mendikbud Muhadjir Effendy sejatinya bermaksud baik.

Salah satu tujuannya kata Fahri, membantu membangun karakter anak bangsa Indonesia yang lebih baik.

"Idenya itu adalah mengintegrasikan sekolah itu supaya interaksi murid dan guru itu lebih baik. Tapi di saat yang sama, Sabtu-Minggu itu diliburkan supaya interaksi dengan keluarga ‎dan orang tua juga baik. Jadi idenya baik," kata Fahri kepada wartawan di Komplek Parlemen, Senayan, Kamis (17/8/2017) kemarin.

Selain itu, kata Fahri, full day school juga dapat mengintegrasikan sekolah supaya interaksi murid dan guru lebih baik.

Baca: Fahri Hamzah Minta Inisiator Aksi Santri Teriak Bunuh Menteri Bertanggungjawab

"Ya kan sekarang ini anak-anak kita dirampas oleh gadget TV, macam-macam pergaulan yang tidak-tidak, dan akhirnya tumbuh bangsa yang tidak punya karakter yang gampang kena narkoba, dan sebagainya. Itu obatnya ya full day school itu," kata Fahri.

Untuk itu Fahri meminta Presiden Joko Widodo untuk membela program Menteri Muhadjir yang sudah berbuat hal benar.

"Dia (Jokowi) jangan diam-diam, kasihan Pak Menteri. Dia sudah melakukan hal yang benar, harus dibela dong. Bahwa ada masyarakat yang nggak setuju, ya ngga apa-apa. Bisa dibikin beragam," katanya.

Fahri Hamzah tak setuju jika dikatakan bahwa FDS bisa mematikan madrasah diniyah. Sebab menurut dia, madrasah diniyah dan sekolah formal bisa saling melengkapi dengan adanya kebijakan FDS.

Pendidikan formal bisa diajarkan kepada siswa pada siang hari, sedangkan pelajaran madrasah Diniyah pada sore hari.

"Ya udah gabung aja. Artinya dua-duanya tetap bisa ada. Nggak harus dihentikan karena nggak ada paksaan juga," katanya.

Penulis: Wahyu Aji
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help