Hak Angket KPK

Kerja Satu Bulan Lebih, Pansus Temukan 11 Dugaan Penyelewengan KPK, Berikut Rinciannya

Pansus Angket terkait Tugas dan Wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merangkum 11 temuan yang didapat hasil kerja mulai tanggal 4 Juli.

Kerja Satu Bulan Lebih, Pansus Temukan 11 Dugaan Penyelewengan KPK, Berikut Rinciannya
Tribunnews.com/Wahyu Aji

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pansus Angket terkait Tugas dan Wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merangkum 11 temuan yang didapat hasil kerja mulai tanggal 4 Juli sampai 21 Agustus 2017.

Wakil Ketua Pansus KPK Masinton Pasaribu mengatakan, hasil temuan ini akan diklarifikasi kepada KPK.

"Tentu temuan ini akan kami klarifikasi ke KPK, ini temuan sementara. Karena sementara ini perlu disampaikan ke publik. Proses (Pansus Angket KPK) masih berlanjut," kata Masinton kepada wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Senin (21/8/2017).

Baca: Pansus Angket KPK Sambangi Rumah Sekap di Depok dan Kelapa Gading

Politikus PDI Perjuangan ini menjelaskan, pihaknya akan memanggil pimpinan KPK dalam waktu dekat.

Lebih lanjut jika mereka enggan hadir, Masinton menjawabnya dengan mengutip pidato Presiden Joko Widodo pada rapat paripurna DPR pada 16 Agustus lalu.

"Perlu kami tegaskan, presiden pada sidang paripurna 16 Agustus, menyampaikan tidak boleh ada satu institusi pun di negara ini yang merasa lebih tinggi dari institusi lain. Tidak ada kekuasaan absolut. Kami minta KPK taat pada UU. Maka kami minta supaya KPK taat pada konstitusi dan UU dan taat pada perintah presiden sebagai kepala negara dan pemerintahan," kata Masinton.

Berikut 11 poin temuan Pansus Angket KPK yang dibacakan oleh Anggota Pansus Angket KPK Mukhamad Misbakhun:

1. Dari Aspek kelembagaan. KPK bergerak menjadikan dirinya sebagai lembaga superbody yang tidak siap dan tidak bersedia di kritik dan diawasi, sena menggunakan opini media untuk menekan para pengkritiknya.

2. Kelembagaan KPK dengan argumen independennya mengarah kepada kebebasan atau lepas dari pemegang cabang-cabang kekuasaan negara. Hal ini sangat mengganggu dan berpotensi terjadinya abuse of Power dalam sebuah negara hukum dan Negara demokras‘i sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 1 ayat (2) dan ayat (3) UUD 1945.

Halaman
123
Penulis: Wahyu Aji
Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help