Film G30S

Panglima TNI: Kami Punya Pengalaman Buruk, Tiba-tiba Beberapa Jendral Dihabisi

Panglima TNI Jendral TNI Gatot Nurmantyo memerintahkan jajarannya untuk menonton film Pengkhianatan G30S/PKI.

Panglima TNI: Kami Punya Pengalaman Buruk, Tiba-tiba Beberapa Jendral Dihabisi
Tribunnews/HO/Puspen TNI/Kolonel Inf Bedali Harefa
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nurmulia Rekso Purnomo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Panglima TNI Jendral TNI Gatot Nurmantyo memerintahkan jajarannya untuk menonton film Pengkhianatan G30S/PKI.

Gatot Nurmantyo menyebut banyak yang bisa dipelajari dengan menyaksikan film tersebut.

Terutama tentang pengalaman buruk bangsa Indonesia dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Baca: TNI Siap Mendukung Pembuatan Film Pengkhianatan G30S/PKI Versi Baru

Apakah masih ada pendukung PKI atau ada kelompok yang hendak menghidupkan kembali ideologi komunis, Panglima TNI tidak menjawab dengan gamblang pertanyaan tersebut.

Ia menjawab bahwa Indonesia punya pengalaman buruk dengan PKI.

"Bahwa kami punya pengalaman buruk, tiba-tiba beberapa jendral dihabisi, maka sistem (kewaspadaan) itu bekerja di TNI sampai saat ini dan biarlah kami," ujarnya.

Baca: Soal Nonton Film G30S/PKI, Panglima TNI: Kamu Kawin Juga Bisa Dipolitisasi, Biarkan Saja

Apa yang terjadi pada 30 September 1965, adalah penculikan dan pembunuhan sejumlah jendral TNI AD oleh kelompok bersenjata.

Pemerintah belakangan mengeluarkan pernyataan resmi, bahwa peristiwa tersebut didalangi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Setelahnya, perburuan dilakukan terhadap kader dan simpatisan PKI.

Pada tahun 1984, pemerintah merilis film Pengkhianatan G30S/PKI.

Sampai tahun 1998, film tersebut wajib ditayangkan setiap stasiun televisi, pada 30 September.

Setelah film tersebut tidak lagi menjadi tayangan wajib, Gatot Nurmantyo mengaku khawatir pembelajaran tersebut tidak sampai ke generasi setelahnya.

"Kalau sudah tidak ada lagi, untuk menginformasikan, siapa ? Anak tumbuh dewasa, ada media sosial, itu yang diterima, akhirnya tidak sadar. Sejarah kan cenderung berulang, kalau berulang, kasihan bangsa ini," ujarnya.

Penulis: Nurmulia Rekso Purnomo
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help