Sri Mulyani Kecewa Anak Buahnya Dapat Beasiswa Tapi Malah Hitung-hitungan

Menteri Keuangan RI Sri Mulyani kecewa dengan beberapa anak buahnya yang belajar di Jepang dapat beasiswa dari negara tetapi pikirannya sempit.

Sri Mulyani Kecewa Anak Buahnya Dapat Beasiswa Tapi Malah Hitung-hitungan
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) dan Duta besar Indonesia untuk Jepang Ir Arifin Tasrif 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Menteri Keuangan RI (Menkeu) Sri Mulyani kecewa dengan beberapa anak buahnya yang belajar di Jepang dapat beasiswa dari negara tetapi pikirannya sempit bahkan terkesan hitung-hitungan.

"Saya tak ingin disekolahkan dengan uang negara malah melihat sebab akibat, hitung-hitungan.
Connect wrongly jadi sedih, di sekolahkan, logic malah tidak jalan-jalan," kata Sri Mulyani, Minggu (8/10/2017) malam di hadapan sekitar 200 warga Indonesia yang berdomisili di Jepang.

Seorang penerima beasiswa Indonesia mempertanyakan apakah bisa Indonesia dibangun tanpa pajak karena sumber daya alam besar.

Saudi Arabia yang punya banyak minyak, masyarakat tak dikenakan pajak. Lalu apakah bisa pajak dari sumber alternatif lain?

"Saya bingung punya beasiswa tapi tidak rela bayar pajak. Eh iya, iya saya tahu kamu rela ya," kata Sri Mulyani.

Menkeu mencontohkan perusahaan yang baru dibangun yang tentu tidak akan dimintai pajak.

Baca: Kisah Mistis di Jalur Nagreg, Melempar Rokok Sebelum Turunan hingga Sosok Bayangan Putih Menyeberang


"Perusahaan start up belum generate income ya tidak dipajakin. Kalau sudah berpendapatan 52 juta rupiah per tahun ya gak kena pajak. Jadi jangan pikir belum apa-apa sudah dipajakin ya,” kata Sri.

Tapi kata Sri, kalau omsetnya Rp 4,8 miliar akan dikenakan pajak dan itu pun cuma 1 persen.

"Coba tanya profesor mu berapa pajak di Jepang. Pajak itu adalah kewajiban. Kita aja kalau 5 kali salat sehari kadang gak iklhas salatnya. Kewajiban kadang terpaksa. Mengapa wajib bayar pajak? Karena kita attached ke negara. Apabila mau gak attached juga tidak apa sih. Tapi artinya kita tidak punya ikatan negara dan rakyat dengan negara," jelas Sri.

Negara Arab menurut Sri Mulyani tidak kreatif karena hanya mengandalkan minyak atau sumber daya alamnya saja.

"Negara yang pajaknya tinggi, justru kreatif. Jadi jangan dengan natural resources yang besar berarti tidak usah bayar pajak. Tidak benar itu," kata Sri.

Sri Mulyani lalu mencontohkan negara Norwegia, yang minyaknya lebih banyak dari GDP-nya saja memiliki pajak 60 persen.

"Bukan tergantung dari natural resources. Kalau tergantung itu saja maka kita tak punya massa dan brain tidak berkembang. Lalu natural resources semua, maka sektor lain akan mati," kata Sri.

Menurutnya, kalau punya natural resources justru malah harus jadi kreatif dan tidak jadi lemah.

"Norwegia punya soverign wealth fund dan uang natural resourcesnya masuk ke sana supaya ekonominya tidak distorted (terganggu) oleh natural resources untuk next generation bukan untuk kita pakai sekarang," kata Sri.

Menkeu menasihatkan penerima beasiswa tersebut yang bergerak di bidang studi teknologi untuk diskusi dengan teman lain di bidang ekonomi agar wawasan lebih terbuka lagi.

"Kita bayar pajak supaya sovereign atau kedaulatan dan kemerdekaan bisa terjaga baik dengan gotong royong bayar pajak," katanya.

Sementara pendapatan bukan pajak memang ada dari royalty, kontribusi bukan pajak sebesar Rp 250 triliun.

"Bahkan pada saat harga minyak kita 100 dolar AS per barrel, pendapatan dari non pajak itu menjadi 350 triliun rupiah," jelasnya.

"Total penerimaan pajak sebesar Rp 1.400 triliun memang meaning something tapi bukan selamanya," kata Sri.

Masalah di Indonesia menurutnya memang soal sikap dan karakter orang Indonesia.

"All about attitude karakter komitmen to your country. Ini masalah di Indonesia. Saya untung atau rugi, hitung-hitungan neraca. Soekarno Hatta dulu tidak pikirkan neraca untung rugi untuk memerdekakan Indonesia. Kalau memang mau Pak Hatta bisa tidur di Rotterdam tuh ada Hatta building. Dan juga kalau untung rugi mengapa Sri Mulyani mau pulang ke Indonesia dari Washington DC?" tanya Sri.

Jadi menurut Sri Mulyani, Indonesia harus pakai hati pada tempat yang benar. Banyak cara bisa dilakukan untuk membangun Indonesia termasuk di bagian timur.

"Kalian bisa jadi konsultan bangun Indonesia Timur dan sebagainya. Kini Indoensia Timur tidak terbelakang lo. Banyak pelabuhan dibangun terbuka perdagangan dengan baik. Semua itu saya tak perlu buatkan manual book harus begini, begitu kan? Opportunity selalu berkembang di sana. Jadi terbaik ikutilah pilihan hatimu dan rezeki akan datang sendiri," kata Sri.

Sri Mulyani menceritakan ibunya tak pernah bermimpi menjadikan dirinya sebagai menteri keuangan.

"Gak juga ibu saya mencita-citakan saya jadi Menkeu. Pesan ibu hanya satu, put your heart dengan baik, letakkan kerja pada hatimu yang kamu yakini. Rezeki recognition reward kembali dari situ semuanya," kata Sri.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help