Polemik Panglima TNI

Panglima TNI Dilarang Masuk AS, Pemerintah Bisa Panggil Pulang Dubes RI dari Amerika

Pemerintah Indonesia bila tidak mendapat klarifikasi atau klarifikasi tidak memadai dari AS, dinyatakannya, maka harus melakukan protes yang keras.

Panglima TNI Dilarang Masuk AS, Pemerintah Bisa Panggil Pulang Dubes RI dari Amerika
Foto Kolase Tribunnews.com
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Presiden AS Donald Trump. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Prof. Hikmahanto Juwana angkat suara menyikapi penolakan yang dilakukan oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS) terkait kunjungan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

Padahal, kunjungan Panglima TNI itu atas undangan resmi dari mitranya Panglima AS.

Baca: Pemerintah RI Harus Keras Respons Sikap Amerika yang Tolak Panglima TNI

"Permasalahan ini bila tidak ditanggapi secara tepat oleh Pemerintah AS akan berakibat pada hubungan Indonesia-AS," ujar Hikmahanto Juwana dalam keterangan tertulisnya, Minggu (22/10).

Bagaimana mungkin, menurut dia, seorang pejabat resmi yang mendapat undangan resmi dari mitranya ditolak untuk bisa datang, apalagi visa telah didapat dari Kedutaan Besar AS di Jakarta.

Terlebih lagi, pihak AS pemberitahuannya tidak diberikan melalui saluran resmi, melainkan melalui pemberitahuan maskapai yang sesaat akan dinaiki oleh Panglima TNI beserta rombongan di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta pada Sabtu (21/10).

Pemerintah Indonesia bila tidak mendapat klarifikasi atau klarifikasi tidak memadai dari AS, dinyatakannya, maka harus melakukan protes yang sangat keras.

Bila perlu, ia mengemukakan, Pemerintah RI memanggil pulang Duta Besar RI untuk berkonsultasi. Bila juga tidak diindahkan, maka bukannya tidak mungkin Pemerintah RI melakukan pengusiran atau persona non-grata terhadap diplomat AS di Indonesia.

"Namun, publik harus sabar dan tidak reaktif, serta memberi kesempatan bagi pemerintah untuk melakukan langkah-langkah menjaga kehormatan negara di mata negara lain," demikian Hikmahanto Juwana.

Penulis: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help