Rembuk Nasional Ajak Presiden Jokowi Jadi Panglima Energi

Andang berharap Jokowi bisa terjun ke lapangan membenahi sektor energi sama halnya infrastruktur yang selama ini digenjot.

Rembuk Nasional Ajak Presiden Jokowi Jadi Panglima Energi
Harian Warta Kota/Henry Lopulalan
PERCEPATAN SERTIFIKASI - Presiden Joko Widodo memberi arahan kepada pekerja konstruksi saat meresmikan Pembukaan Percepatan Sertifikasi Tenaga Kerja Konstruksi di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Senayan, Jakarta, Kamis (19/10). Presiden dalam arahannya menyatakan keyakinannya bahwa kualitas konstruksi karya tenaga kerja Indonesia mampu setara dengan konstruksi yang dihasilkan ahli konstruksi dari Jepang dan Jerman dengan terus meningkatkan kualitas tenaga kerja konstruksi. (Warta Kota/Henry Lopulalan) 

Laporan Wartawan Tribunnews Adiatmaputra Fajar Pratama

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) terus membenahi sektor pertambangan dan energi guna. Tujuannya untuk mendorong pemanfaatan sumber daya energi dan tambang demi kesejahteraan rakyat seperti amanat dari konstitusi.

Dalam acara Rembuk Nasional, Presiden Jokowi pun diajak menjadi Panglima di bidang energi dan tambang dalam sisa dua tahun masa kepemimpinannya.

Karena selama ini Jokowi dinilai turun tangan untuk sektor infrastruktur dalam tiga tahun masa kepemimpinannya.

“Pak Jokowi harus jadi Panglima Energi seperti dia jadi Panglima Infrastruktur," ujar Ketua Bidang Rembuk Pertambangan dan Energi Andang Bachtiar di acara Rembuk Nasional 2017, Jakarta, Senin (23/10/2017).

Andang berharap Jokowi bisa terjun ke lapangan membenahi sektor energi sama halnya infrastruktur yang selama ini digenjot.

"Seharusnya jangan diserahkan lagi urusan energi ini ke level di bawah Presiden," ungkap Andang.

Andang berharap mantan Walikota Solo itu bisa memastikan pembangunan sektor pertambangan dan energi melalui visi jangka panjang. Karena sektor tersebut mustahil dibangun dengan kebijakan-kebijakan yang bersifat jangka pendek.

“Jangan hanya melihat jangka pendek saja. Karena untuk ekplorasi migas saja itu butuh waktu paling cepat lima tahun lagi baru bisa dinikmati," papar Andang.

Penulis: Adiatmaputra Fajar Pratama
Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help