Korupsi KTP Elektronik

Hakim Kusno Minta Bukti Dimulainya Sidang Perdana Setya Novanto

Hakim Kusno belum memutuskan apakah menggugurkan sidang praperadilan tersebut.

Hakim Kusno Minta Bukti Dimulainya Sidang Perdana Setya Novanto
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Hakim tunggal Kusno memimpin Sidang lanjutan Praperadilan dengan pemohon Setya Novanto dalam penetapannya sebagai tersangka kasus dugaan korupsi e-KTP di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (11/12/2017). Sidang praperadilan Seya Novanto kali ini beragendakan mendengarkan keterangan saksi dari pihak pemohon. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sidang praperadilan penetapan tersangka Setya Novanto masih akan dilanjutkan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, pada Rabu (13/12/2017).

Hakim Kusno belum memutuskan apakah menggugurkan sidang praperadilan tersebut.

Padahal, sidang perdana kasus tindak pidana korupsi proyek pengadaan e-KTP yang menjerat Setya Novanto akan dilangsungkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, pada Rabu besok.

Kusno membutuhkan bukti dari sidang di Tipikor Jakarta tersebut untuk memutuskan kelanjutan sidang praperadilan penetapan tersangka, Setya Novanto.

"Saya minta bukti konkrit perkara betul-betul dipersidangkan," ujar Kusno, sebelum menutup persidangan praperadilan di PN Jakarta Selatan, Selasa (12/12/2017).

Menurut dia, bukti dimulainya sidang perkara tidak cukup adanya bukti jadwal sidang.

Baca: Idrus Marham Cium Tangan Habibie di Pembukaan Mukernas Kosgoro

Oleh karena itu, dia meminta kepada pihak KPK menyerahkan bukti sidang tersebut.

"Saya minta tidak cukup dengan bukti penetapan (jadwal,-red) hari sidang saja," kata dia.

Sementara itu, Kepala Biro Hukum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Setiadi, menyanggupi permintaan hakim tersebut.

"(bukti konkrit,-red) bisa mungkin streaming atau telekonferensi atau bukti visual. Tergantung dari beliau (hakim Kusno,-red). Saya tidak bisa jawab sekarang karena teknis. Ini akan saya sampaikan ke pimpinan (KPK,-red)," katanya.

Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help