Pilpres 2019

Perlu Tafsir MK ‎Soal Majunya Lagi JK di Pilpres 2019

Pencalonan kembali Kalla terbentur aturan Amandemen pasal 7 UUD 1945 yang menyatakan jabatan presiden dan wakil presiden hanya boleh dijabat dua kali.

Perlu Tafsir MK ‎Soal Majunya Lagi JK di Pilpres 2019
Tribun Timur
Wakil Presiden Jusuf Kalla. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Presiden Jusuf Kalla kemungkinan tidak akan maju lagi dalam Pemilihan presiden 2019. Selain faktor usia, JK dalam beberapa kesempatan mengatakan tidak akan maju dalam Pilpres mendatang karena terbentur aturan‎, sebab telah dua kali menjadi Wakil Presiden.

Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira mengatakan aturan mengenai batasan pencalonan presiden dan wakil presiden ‎tersebut multi-tafsir.

"Memang di situ ada multi-interpretasi artinya larangan itu dua kali berturut-turut atau ada jeda," kata Andreas di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, (27/2/2018).

‎Pencalonan kembali Kalla terbentur aturan Amandemen pasal 7 UUD 1945 yang menyatakan jabatan presiden dan wakil presiden hanya boleh dijabat dua kali.

Pasal tersebut berbunyi: "Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan.”

‎Karena multitafsir, Andreas mengatakan perlu fatwa Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai pasal tersebut untuk memastikan apakah Kalla dan mencalonkan kembali dalam pemilihan presiden atau tidak.

"Perlu dikaji kembali dan perlu minta fatwa MK untuk memastikan seandainya pak JK sendiri bersedia dicalonkan atau tidak," katanya.

Menurut Andreas, Kalla layak untuk layak mendampingi Jokowi di Pilpres 2019. Apalagi Kalla menurut Andreas telah berkontribusi banyak dalam Pemerintahan Jokowi sekarang ini.

‎"Ya selama ini pak JK sudah merespons dengan baik dalam proses pemerintahan ini. Sehingga tidak ada salahnya juga melihat pak JK sebagai salah satu nominasi. Bahwa nanti keputusannya seperti apa itu lain hal dan juga menjadi hal juga karena pak JK punya hak untuk memutuskan beliau mau apa tidak," katanya.

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help