Terpidana Terorisme

Kalapas Gunung Sindur Bingung Ada Usulan Ba'asyir akan Dijadikan Tahanan Rumah

Kepala Lapas Gunung Sindur Bogor, David Hasudungan Gultom belum menerima permohonan apapun dari pihak terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba'asyir.

Kalapas Gunung Sindur Bingung Ada Usulan Ba'asyir akan Dijadikan Tahanan Rumah
Tribunnews.com/Amriyono Prakoso
Terpidana kasus tindak terorisme, Abu Bakar Baasyir terlihat memakai kursi roda untuk masuk ke dalam klinik eksekutif ruang Kencana, RSCM Jakarta, Kamis (1/3/2018). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Lapas Gunung Sindur Bogor, David Hasudungan Gultom belum menerima permohonan apapun dari pihak terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba'asyir, termasuk Pembebasan Bersyarat (PB).

Ia makin bingung karena kini muncul usulan agar Ba'asyir yang berstatus narapidana ingin dijadikan tahanan rumah.

"Ada usulan itu saya justru lebih bingung. Karena tahanan kota maupun tahanan rumah itu untuk seseorang yang masih berstatus tahanan atau kasusnya yang masih berproses penyidikan atau di pengadilan. Sementara, Pak ustaz (Ba'asyir) ini kan sudah berstatus narapidana. Bagaimana mungkin statusnya mundur lagi jadi tahanan," ujar David kepada Tribunnews.

David menjelaskan, tidak ada peraturan yang mendukung atau membolehkan seorang narapidana bisa menjalani masa hukuman pidana di dalam kota atau rumah.

Penahanan rumah hanya berlaku bagi seorang tahanan sebagaimana diatur dalam Pasal 22 ayat 2 KUHAP.

Baca: Ridal Bersyukur Putra Bungsunya Masih Hidup Meski Sempat Dibekap Pembunuh Metha

Pasal tersebut mengatur, "Penahanan dilaksanakan di tempat tinggal atau tempat kediaman Tersangka/Terdakwa, dengan tetap di bawah pengawasan pihak yang berwenang untuk menghindari segala sesuatu yang akan menimbulkan kesulitan dalam penyidikan, penuntutan atau pemeriksaan di sidang pengadilan."

Terpidana kasus terorisme Abu Bakar Baasyir saat tiba di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, Kamis (1/3/2018). Abu Bakar Baasyir mendatangi RSCM untuk melakukan kontrol kesehatan atas sakit yang dideritanya. Tribunnews/Jeprima
Terpidana kasus terorisme Abu Bakar Baasyir saat tiba di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, Kamis (1/3/2018). Abu Bakar Baasyir mendatangi RSCM untuk melakukan kontrol kesehatan atas sakit yang dideritanya. Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/JEPRIMA)

Menurutnya, seorang narapidana hanya bisa keluar dari lapas jika telah selesai menjalani masa hukuman, termasuk mendapat pengurtangan masa hukuman (remisi) atau mendapatkan hak PB setelah melewati berbagai persyaratan, termasuk asimilasi dan menjalani deradikalisasi untuk narapidana kasus terorisme.

"Kalau sudah menjalani pidana bisa keluar lapas paling yang bersangkutan sudah men dapat Pembebasan Bersyarat (PB). Selebihnya enggak ada. Kalau sudah terpidana, bagaimana mungkin bisa jadi tahanan lagi," ujarnya.

Baca: Budi Waseso Tak Tertarik Terjun ke Dunia Politik

Halaman
123
Penulis: Abdul Qodir
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help